Sendiri kadang membuatku merasa lega,
Sebab aku tak harus sibuk menjatuhkan hati dan bersiap dipatahkan.
Meski lega bukan berarti damai!
Mana mungkin hatiku sepenuhnya berdamai ketika diam-diam harapan masa depan ku impikan!
Entah sampai kapan aku mampu menekan naluri perempuan ini,
Perempuan mana yang tak memimpikan seorang lelaki yang mampu merangkul dan menyambutnya dengan hangat.
Tertawa bersama untuk kebahagiaan yang sederhana, saling menghapus airmata saat duka menyelimuti salah satunya.
Satu bulan lagi aku memasuki angka keempat pada usia kepala duaku ini,
Tentu tak banyak yang aku harapkan,
Karena terkadang akupun mati akal dan hati untuk menerka apa yang dinamakan kebahagiaan.
Nyaris pikiranku terlalu sempit menyimpulkan arti tawa dan tangis.
Hari-hariku hambar, tak pernah ada yang berwarna.
Suatu hari aku pernah merasa menjatuhkan hati dan memikirkan seseorang berjam-jam dalam sehari,
Sempat berangan bisa masuk dan tinggal bersama pada kehidupannya.
Namun lagi-lagi aku harus memaksa logika untuk membuat hati tak hanyut,
Ya pada akhirnya aku tersadar,
Dia orang yang membuat hatiku kembali merasakan getaran,
Dia orang yang membuat ingatanku melupakan luka silam,
Dia orang yang membuat pikiranku bekerja keras untuk tampil sempurna,
Nyatanya bagai pungguk merindukan bulan!
Terlalu tinggi aku harus menggapainya!
Terlalu rendah tempatku berada!
Pada akhirnya aku tak punya cara lain,
Selain belajar tak menjatuhkan harapan.
Membekukan hatiku diam-diam.
Berpura-pura tak menginginkan siapapun.
Meski gelisah selalu mendera.
Maka aku biarkan kisahku berlalu seiring berjalannya waktu,
Berharap pada satu-satunya Dzat yang padaNYA harus ku gantungkan harap,
Yaitu ALLAH ................
Yang tak pernah mengecewakan walau kerap kali aku melupakanNYA!
ASTAGFIRULLAH.........................
