Powered By Blogger

Kamis, 27 Juni 2013

Entahlahhh.........................

Entahlah, aku seolah berada dalam dua dunia  yang memaksaku menyeretmu dalam narasi lama. Aku tak terlalu pandai mencerca tawamu dalam abai, toh jika waktu akan kembali membiarkanku piatu, mungkin itulah sketsa yang harus aku lewati.
Ada rasa sesak yang memuncak, ketika ternyata rindu ku telan sendirian.Ada segetir rasa takut yang seolah ingin mencengkram tubuhku dalam rasa abai yang berkepanjangan.
kamu tahu, begitu hantaman pilu ku seret sebagai arti dalam kedewasan, aku muak!


Senin, 17 Juni 2013

kumpulan puisi (simetas)


HATI VS LOGIKA
Lewat teriakan lantangnya logika berbicara
Memaki perasaan yang ada
Menanamkan benih kebencian
Membuahkan keegoisan. . . . . .

Lewat bisikan lirihnya hati bersuara
Mencairkan rasa yang terselubung emosi
Meredam gejolak ambisi hasutan logika
Meluluhkan segala keegoisan diri...

Hanyut dalam pertarungan logika dan hati
Mana yang seharusnya ku ikuti?
Logika yang yang senantiasa membenci
Atau hati yang selalu ikhlas memberi…….


                                                                   BY: Lusi Dwi Wahyuni XII-IA-4

 
SILENT PLEASE!
Sejenak terdiam hanyut dalam pikiran,
Satu persatu ku urai ribuan kecamuk perasaan,
Yang kini menyatu menjadi butir kehampaan,
Tiba-tiba terlintas sosok itu,
Sosok yang begitu ku kasihi,
Ah,,,bulsit benci ku urai tentang dirimu,
Terlalu banyak goresan luka tersayat,
Begitu rapi kau ukir dihati,
Hingga nyaris membuatku mati rasa!

Aku Benci. . . . . .
Saat kau tak lagi hargai hati,
                        Aku kecewa. . . . .
                        Ketika kau kembali menggoreskan luka,
                        Huft, perih. . . . .
                        Saat mau tak mau realita harus ku terima,
                        Sadarkah kamu rasa itu berevolusi,
                        Membawa ku larut dalam kemunafikan,
                        Kini nyaris ku benci sosok itu!

Mengapa seolah-olah aku yang salah,
Saat rasaku sendiri terabaikan,
Ketika ku paksa hati pendam keegoisan,
Mereka bilang cinta tak harus memiliki?
Kau bilang ini takdir kita?
Ah.....tutup mulut kalian!
Muak ku dengar karena kalian tak rasa,
Hentikan ocehan yang menyuruhku bersabar!
Cukup dan jangan keluarkan omong kosong kalian. . .
                       
Aku manusia biasa,
                        Bukan nabi juga malaikat,
                        Mampu tertawa juga terluka,
                        Ku punya rasa ingin dibalas,
                        Ku punya hati ingin disambut,
                        Ku punya nafsu ingin dilihat,
                        Ku punya rasa bisa sakit,
                        Ku punya hati bisa menangis,
                        Ku punya nafsu bisa berontak. . .

Hah, sudahlah. . . .Lupakan saja!
Apa yang ku urai hari ini,
Lanjutkan kisahmu dengannya,
Namun ku ingatkan hukum karma jangan kau abaikan,
Walau pelan ku yakin kan datang,
Agar kau tahu rasaku ini,
Ukiran sakit yang juga harus kau nikmati,
Selamat tinggal penjahat kelamin,
Terima kasih untuk kolaborasi rasa yang kau hadirkan!



                  

                                                                             BY: Lusi Dwi Wahyuni XII-IA-4






”Nyatanya Kau PK”

Mulanya kau datang bagai seorang pahlawan,
Membawaku berlari dari luka yang menyakitkan,
Dengan semboyan janji yang kau ikrarkan,
Kau tepis semua keraguan!
Lambat laun kau bermetafase,
Menjadi penjilat sumpahmu sendiri,
Hingga kini begitu nampak dalam dirimu,
Kau bagai titisan Dajjal!

Terlalu singkat kau deskripsikan kisah barumu,
Terlalu lancang kau hakimi aku dengan ribuan celamu,
Kau abaikan hukum karma,
Sedang kau lupa sebuah hati terluka!
Terlalu naif kau berkata akan menjaga kesuciannya,
Jelas-jelas separuh kehormatanku tlah kau cicipi,
Dengan sombong kau pamer kebahagiaan,
Kau vonis murah harga diriku!

Ku kira kau malaikat,
Namun nyatanya kau penjilat,
Kini ku sadari kau jelmaan iblis,
Sesosok penjahat kelamin yang berlaga mistis!
Arrghh. . . yang harus kau tau,
Bagiku kau tlah mati,
Ya. . . yang ku tahu kau tlah mati!
Serta luka ini akan ku kubur dan obati sendiri. . .

Silahkan tertawa,
Karena hari ini kau menang,
Ku ucapkan terima kasih,
Untuk kolaborasi rasa yang kau hadirkan!
Di ujung batas perpisahan,
Logika berbisik kobarkan dendam,
Selamat tinggal Penjahat kelamin,
Semoga tak bertemu di masa depan!

                                                                  

BY: Lusi Dwi Wahyuni XII-IA-4






Akhir Kisah Putih Abu-abu

Haru tak tertahan kala mengingatnya,
Namun hari itu pasti akan tiba,
Waktu enggan mengalah untuk mengulurnya,
Aku memilih pasrah untuk menyambutnya. . .

          Sejenak hanyut dalam pusaran arus ingatan,
          Ku reka ulang ribuan cerita yang tersimpan,
          Sekilas muncul sesosok bayangan yang ku coba musnahkan,
          Kisah putih abu-abu yang tak mungkin terlupakan. . .

Kadang menatapmu dari jauh saja aku bahagia,
Meski tak harus dekat menjadi pemilik hatimu,
Bahkan Sejak kau pilih pelabuhan hati baru,
Aku mundur tertatih menahan realita!
         
          Pancaran sinar keteduhan dimatamu,
          Meredup tak mampu memantul pada mataku,
          Titik fokus sinar itu tertuju untuknya,
          Ya . . . . aku tahu tentu untuk dia!

Entah harus sedih atau senang,
Untuk menyambut hari itu datang,
Mungkin senang sebab ini awal melangkah kedepon,
Namun juga sedih karena akan kehilangan teman, guru, juga kamu!!

                                                         

BY: Lusi Dwi .W. (XII-IA-4)









ANDAI WAKTU BERPUTAR KEMBALI (CERPEN SIMETAS 2011)


Matahari telah selesai bertugas, kini kembali keperaduannya. Ku pandangi lekat-lekat, bagaimana dia menghilang lalu langit menjadi gelap perlahan.
Entah apa penyebabnya, tiba-tiba pikiranku melayang. Teringat kisah yang hampir  berlalu 1 tahun lamanya. Hari itu adalah pertama masuk sekolah, setelah 2 minggu libur semester genap. “Hai yun! yun. . . yuni!", ku dengar sebuah suara yang tak asing menyapa. "Hai, juga Lia sayang", sambutku dengan wajah berbinar. Yuni Dwi Artika itulah nama panjangku. Tadi itu Lia Permatasari, Lia adalah sahabatku sejak aku duduk dikelas 6 SD. Ketika SMP kami juga satu sekolah.
Hingga SMA kelas XI, kami selalu terlihat kompak dan selalu satu kelas. "Kamu kelas XI-IPA-4 juga kan yun?", tanya Lia. "Iya dong, kita kan soulmate", jawabku diiringi tawa terbahak-bahak. Dengan ditemani canda-tawa kami pun segera menuju kelas yang dimaksud yaitu XI-IPA-4. Aku senang mengenal Lia, dia pendengar yang setia. Saat setumpuk masalah menghampiriku terutama my love problem dia selalu ada mendengarkan keluh kesahku dan tak lupa sedikit masukan serta solusi darinya. She is the my best friend.
Hampir 9 bulan aku menjalani rutinitas sebagai pelajar kelas XI jurusan Ilmu Alam. Alhamdulillah, teman-teman di kelas semuanya baik, menyenangkan, gokil dan kompak tentunya. Sangat jauh dari perkiraanku sebelum mengenal mereka.. Kami menamakan kelas XI-IPA-4 dengan nama “SAMPAT”. Seminggu sekali, anak-anak sampat selalu berkumpul dan bersuka ria berjalan bersama. Menjelajahi satu persatu tempat yang mereka ingin nikmati. Walau aku tak pernah ikut berpartisipasi tetapi aku selalu stand by mendengarkan report dari Lia setelah melakukan refresing bersama. Aku turut senang tiap kali Lia membuka kisah seputar pengalamannya itu.
Tanpa terduga akhir Februari, bertepatan dengan bulan kelahiranku, Tio teman sekelasku menunjukkan perlakuan yang berbeda padaku. Entah apa maksudnya, dia kerap kali menyapaku tanpa alasan logis dan terlihat iseng. "Yun. . .yuni. . . .", panggil Tio. Saat itu kita melakukan praktikum kimia di Lab. IPA. "Kenapa?", ku jawab panggilannya dengan sedikit jutek dan ketus.  Jujur aku tak menyukainya tetapi bukan berarti benci. Tepatnya perasaanku ini biasa saja kepadanya. Tio Alexatria adalah teman sekelasku yang urakan, seadanya, lumayan tampan tetapi malas mengerjakan tugas. Aku lebih suka Adi, sahabat karib Tio. Ahmad Adi Hamdani, juga teman sekelasku, dia pendiam serta bukan tipe cowok gombal. Parasnya manis serta tak kalah menarik dengan Tio. Namun sayang, sempat ku dengar selentingan kabar, Adi menyukai Ana. Ana gadis yang cantik, banyak cowok tertarik padanya, wajar jika memang Adi jatuh hati. Perlahan aku memutuskan untuk memusnahkan rasa itu.
Getar hp dimeja belajar membuyarkan khayalanku malam itu.
"mlm, lge ap?", pesan dari tio rupanya.
"tdr2an aj", balasku singkat.
"G keluar? Km g pernh ikt ma ank2 ya low da acra kumpul2..,knp?".


Ku abaikan pesan itu, sebab terasa bosan ku jelaskan berulang-ulang pada setiap anak yang bertanya. Pertanyaan mereka selalu sama yaitu menanyakan alasan ketidakhadiranku.
"sudahku bilang aku malas, aku juga gak begitu suka jalan-jalan", gerutu ku dalam hati. Hampir setiap malam, hp ku tak pernah absen mendapat sms dari Tio. Aku tak menggubrisnya, sebab saat itu aku baru putus cinta, selain itu yang ku harapkan adalah Adi bukan malah Tio cowok urakan yang selalu terlambat datang ke sekolah.
            Sejak putus cinta dari Vian, malamku terasa begitu hampa. Sepi dan sunyi kerap kali menjadi teman keseharianku. Lambat laun hatiku luluh dan aku mulai merespon kehadiran Tio. Dia kini menjadi penyemangat belajarku. Namun setiap bertemu di sekolah, aku berlaga cuek dan tak peduli padanya.
"Eh. . .yun, kayaknya Tio naksir kamu deh!", kata Lia.
"Hmmm, masak sich! Kayaknya gak deh. Kamu ada-ada aja, mana suka dia ama cewek rumahan kayak aku. Hobinya Tio kan ngukur jalan, sama tu ma kamu", jawab ku sambil tersenyum.
"Dikasi tahu malah gak percaya kamu yun! Tapi suatu saat kalau Tio nembak kamu, kamu mau jawab apa?",tanya Lia.
"Gak mungkin Lia! Aduh. . .napa sich. Kamu suka dia? Tapi ntar aku bakalan jawab iya", balasku sumringah.
"apa yun? Yun, Tio tu playboy sama kayak Vian. Aku harap kamu gak salah milih cowok lagi yun. Banyak yang sering liat Tio boncengan ma cewek, kalau bukan playboy apa dong dia. Please. . . Pikirin yang bener kalau kamu mau jadi ceweknya, ok say!", kata Lia.
"Aku gak akan terima dia kok say! Aku mau nyembuhin patah hatiku dulu", ucapku.
Empat hari berselang, rupanya Tio benar-benar mengungkapkan perasaannya padaku.
"aku sayang kamu! Kamu mau jd cewq?".
Aku baca pesan itu dengan campuran rasa tak karuan. Antara ingin mengisi kekosongan hatiku dan melupakan Vian, atau mengikuti nasihat Lia tentang rumor yang beredar bahwa Tio adalah tipe cowok playboy. Tak segera ku balas pesan itu. Akhirnya ku temukan ide untuk menantangnya menyatakan secara langsung kepadaku. Keesokan harinya, tepat hari kamis saat praktikum biologi di Lab. Ipa, Tio mendekatiku dan membisikkan ucapan yang serupa seperti smsnya. Aku tersentak, dan entah setan apa yang merasuki pikiranku, ku iyakan saja pertanyaan Tio. Namun aku meminta satu hal padanya untuk merahasiakan terlebih dahulu hubungan ini. Tio setuju dan ku coba menjalani hubungan diam-diam itu dengan sepenuh hati.
            2 bulan hubunganku dan tio begitu rapi tersembunyi. Lia sahabatku pun tak tahu tentang ini. Aku pun memilih untuk tetap diam. Namun nyatanya sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai tentu akan tercium juga. Hal itu terjadi padaku, kini hampir semua anak mengetahui hubunganku dan tio. Termasuk lia, yang merasa dibohongi olehku. Namun lia tak sedikit pun marah, justru dia turut bahagia dengan berita itu.

Aku lega, mendengar responnya.
Benar kata pepatah, Semakin tinggi pohon, ternyata angin semakin kencang menghantam. Inilah yang terjadi pada hubunganku dan Tio. Hampir 3 bulan hubungan kami berjalan, banyak gosip bertebaran. Hal itu yang selalu membuat telingaku panas. "yun, maaf ya sebelumnya. Tadi malem aku ketemu Tio jalan ma Eka lo. Dia ngebut dan gak nyapa pula", kata Atun mengawali pembicaraan. "oh. . .gitu ya. Ntar aku tanyak aja ama Tio nya", jawabku dengan nada lemah.
Berita seperti itu, tak hanya satu atau dua kali ku dengar. Ini sudah yang ke empat kali.
"yank..semalem kamu jalan ma sapa", tanyaku dengan wajah manyun.
"apa sich nong, denger dari sapa kamu! Kalau gak liat sendiri tu gak usah dimasukin ke hati", jawab tio dengan santai.
Nong adalah panggilan khusus Tio padaku. Aku senang dengan panggilan itu walau arti sesungguhnya adalah karena dahiku menonjol seperti arwana. Tapi tak apa, aku sayang dia.
            4 mei 2010, adalah akhir dari hubunganku dan Tio. Tepat pukul 06.00 WIB, Tio memutuskan menyudahi hubungan ini, setelah semalam sempat terjadi insiden keributan dengannya. Aku mati gaya! Tak mampu ku tepis kenyataan.Bahwa memang dia telah membulatkan keputusannya. Padahal hanya masalah sepele yang terjadi. Namun mengapa dengan mudah dia, putuskan akhiri semua.
"maaf. . .yun! Sampek sini aj hub. Kita. Km jalan aja sana ma Gian. Biarin masalah nyesel apa gaknya keputusanku ini, apa katanya nanti". Pesan itu yang dia kirim sebagai tanda akhir hubungan kita.
Nyatanya dia menuduhku selingkuh dengan Gian adik kelasku. Padahal sebenarnya, semalam aku hanya meminta Gian mengantarkan aku mengerjakan tugas ke rumah Dewi.
Itu pun karena Tio tak mau mengantarkan aku, justru Tio memilih jalan dengan Eka malam itu. Apa yang salah? Toh Tio juga bersama dengan cewek lain malam itu.
"Tio. . Aku minta maaf! Aku gak mau putus", ku balas pesan tadi dengan linangan airmata.
"udah g usah g2, jalanin aj yg sekarang. Aku bkaln ngangGEP km adk ku aj", semangat n0ng!",balasnya tanpa ragu sedikit pun.
11 bulan berlalu, aku masih belum sepenuhnya mampu melupakan tio. Padahal , Tio telah memiliki cinta baru. Aku kerap kali terbakar cemburu, melihatnya. Namun apa dayaku! Aku hanyalah sang mantan. Masalalu yang tak punya arti baginya.
"lia. . . . Aku nyesel. Kenapa gak ikuTin omonganmu dulu", kata ku.
"udahlah yun. . .kita udah hampir lulus! Bentar lagi, kamu bakalan bisa lupain tio. Kamu juga gak perlu liat kebahagiaan dia ma fita",hibur lia.
"aku mau jujur ma kamu, sebenarnya tio adalah cowok yang dapat ciuman pertamaku", ungkap ku terbata-bata.



"what? Tio dah pernah cium kamu! Yun. . .please kamu gak perlu sesali itu. Mau nangis darah sekalipun tio gak akan balik. Dia udah punya Fita. Ayolah, sampai kapan kamu hidup dalam bayangan menyakitkan itu. Jadikan pelajaran, bahwa cowok yang beneran tulus ma kita, gak akan berani nyentuh secuil pun dari tubuh kita. Apalagi dia berani cium kamu, lalu seenaknya aj putusin kamu". ”Aku masih sayang dia, aku juga masih aja ngerasa cemburu tiap liat Tio ma Fita di sekolah!”. ”Ok Sayang! aku ngerti kok. Lupain seseorang itu gak mudah. Tapi mau sampai kapan kamu terpuruk, mikirin orang yang sama sekali gak mikirin kamu. Percayalah, ada yang lebih baik untukmu diluar sana”, tutur Lia dengan senyum kehangatan.
            Kini hanya penyesalan yang tersisa atas semua nasihat Lia yang telah aku abaikan, andai waktu dapat ku putar kembali. Takkan ku biarkan cinta palsu Tio, merasuki hatiku. Dan bodohnya aku mengira cinta sesaatnya sebagai cinta abadi, hingga ku relakan dia mengecup bibirku waktu itu. Perasaan sayang, bukan ditunjukkan dengan perlakuan merusak moral agama seperti itu.
”Yuni,,,yun...kok malah bengong gitu! Ayo sholat udah mau habis itu maghribnya”. Suara ibu membuyarkan semua lamunanku. ”Oh, tuhan....barusan aku ngelamun! Huft...maafkan dosa-dosa hamba ya.. Robb”, ucapkan sambil beranjak dari kursi.

^SELESAI^

                                         By: Lusi Dwi Wahyuni (XII-IA-4)





CORETAN HATI


Aku mencari sesuatu dalam belas yang tak pernah teraba batin terdalammu, seperti ingin berlari namun berdiri saja aku tak mampu. Mungkin hanya orang bodoh yang mau jatuh dalam lubang yang sama. Dan kenapa aku kembali merasakan hal ini???????????
Apakah aku memang sangat bodoh.......
Ataukah memang aku amat sangat bodoh.....
Teramat bodoh,, sangat bodoh,,atau bahkan terlalu bodoh!!!
Membuka hati yang pernah tercabik mungkin keputusan terkonyol yang aku pilih, mana mungkin aku begitu mengasihi seseorang yang nyatanya membenciku....
Lalu alasan apalagi yang akan membuatkan tetap berdiri kokoh pada harapan yang nyaris hanya akan berakhir semu!
Ada getaran pilu yang seketika menghantam keras hatiku, ketika kamu mengatakan “aku benci kamu” .......................................................................
Betapa konyolnya serpihan hati yang ku tata hampir genap 2 tahun, namun aku habiskan bersama orang yang membenciku..........
Lalu aku harus berdiri segagah apa didepanmu, ketika hatiku terasa remuk perlahan dengan lontaran kalimatmu..............................................................
Lalu aku harus tersenyum semanis apa didepanmu, ketika tajam kalimatmu mengikis perlahan tatanan rasaku..................................................................
Kini apalagi yang ku tunggu, untuk di depak  dengan rendahnya dihadapanmu.

^_^ mav jika hadirku hanya meresahkan kehidupanmu,,,ketahuilah,,,,kamu satu-satunya warna dalam hidupkuuuuu....
Meski terkadang aku harus bersimbah airmata, ketahuilah sesungguhnya kamulah yang mampu membuatku tertawa....................................................
Aku tak berharap kamu memeluk dan merangkul tubuhku...............
Aku tak berharap kamu mempersilahkan bahumu sebagai sandaranku........
Aku tak  berharap kamu mengusap butiran bening yang mengalir dipipiku....
Jika kini BENCI telah mengisi sebagian besar dari rasamu yang ada untukku, maka biarkan aku tetap disini dengan rasa yang tak jua enggan pudar,
Biarkan aku menikmati rasa yang pertama kali membuatku jatuh hati padamu hingga hari ini....................................................................................................
Biarkan rasaku tetap hidup meski rasamu telah mati.....................................
Aku yang mencoba tak pernah luka...........................................
Dengan ucapanmu.......................................
Dengan sikapmu..........................................

17  Juni 2013

Lusi dwi wahyuni