Jika
kalian pernah berfikir bahwa bahagia itu ibarat musim, yang pasti berlalu
setelah sedih menyertai, kalian salah! Bahagia itu juga bukan sebuah pilihan. Mana
mungkin kita memilih berbahagia, sedangkan yang terpilih nyaris tak merasakan
kebahagiaan. Bahagia itu adalah bagaimana kita berusaha tersenyum, meski diam-diam
menghapus airmata. Meski diam-diam mengelus dada! Karena seolah ada luapan rasa
yang terdesak. Dan yang terpenting dari sekian teori tentang bahagia yaitu
BAHAGIA adalah
bagaimana kita bersyukur. ^_^Ketika lidah kelu untuk sekedar meluapkan kata maka biarkan PENA menari hingga TINTA mampu menyampaikan makna dari rangkaian AKSARA
Selasa, 22 Oktober 2013
Jumat, 20 September 2013
Cita-cita ataukan Ambisi Semata???????????
ASING....................................
Seperti dekat tapi jauh. Menjadikan abai begitu lekat ketara diantara ceceran cerita. Ada kecemasan yang kadang kala bermetafora dalam kebisuan. Degup itu nyaris mati. Tak pernah lagi terasa hadirnya.
Bagaimana jika benar-benar akan mati, mampukan kamu tetap berdiri tegap dengan membusungkan dada setinggi mungkin. Kau boleh berlaku tegas untuk tanda kau dipatuhi, tetapi tak pernah ada alasan logis dengan terus-terusan memasang muka masam.
Aku hanya merasa sudah terlalu lelah untuk tetap menunggu kau tersadar dari cita-cita yang kadang ku dapati terselimuti ambisi.
Haruskah alasan masa depan menjadikannya sosok yang seolah tak bernaluri? Lalu dengan langkah gontai berlari menjejali puluhan karakter dan melupakan yang telah ada. Ya....... ada!!!
Ada ketika kamu datang dengan setumpuk pikiran masa depan, berharap kau bagi keluh-kesah, bukan kalimat-kalimat menghujat! Bukan pula pandangan sinis itu. Apalagi perlakukan abai itu.
Lalu bagaimana dengan ketika kata tak berkemanusiaan itu dengan begitu mulus terlontar...................
Apa kau tak berfikir????
bukan hanya HATI yang kau ingkarkan tak pernah lagi masuk pioritas fikiranmu itu, tapi seolah memperkuat kerapuhanku untuk perlahan beranjak meninggalkan kepedulian diatas segala keacuhan itu.
Senin, 22 Juli 2013
SUPAYA KAMU
Sejak itu berat titian
langkah ku lalui. Kini ragu telah menumpuk hingga menggunung. Ada sesak yang
tak mudah terlantunkan dalam barisan bibirku yang mengatup karena terlalu
takut.
Tak ibahkah????
Atau memang takkan
pernah ada iba???
Sekian jauh perjalanan
masihkah sanggup aku lanjutkan, setelah sekian waktu terdepak dengan begitu
biadap????
Ataukah aku yang salah
memaknai apa yang tlah tak lagi hidup????
Dibalik dada berupa
segumpal dagingmu!
Mereka sebut
“HATI”.....
Aku sudah mencoba
berlari semampu sisa energiku, tapi tak pernah lebih cepat dari hasratku untuk
tetap menunggu, menunggu hingga kedua bola matamu terbelalak atau bahkan bila
perlu sampai melompat keluar meninggalkan ragamu...
Ingin sekali aku
mendepak diriku lebih keras dari hentakan kemarahanmu! Terlalu nistakah
berharap pada tumpuan yang seolah semakin rapuh dan lenyap!!
Sakit luar dan dalam,
seperti teriris pisau yang ku pakai sendiri. Seperti tertindas truk tapi seolah
ruh enggan beranjak dari jasad.
Koma..............................................................................................................
Seperti orang yang
tertidur namun nyatanya menunggu ajal.
Bolehlah mereka berkata
begitu ringan, namun semua rasa kembali pada diri yang merasai. Jika semudah
membalikkan telapak tangan, telah ku hantamkan jauh-jauh hari rasa ini ke tong
sampah!
Agar kamu juga tahu,
betapa aku tak ingin menyiksa dan tersiksa karenanya.
Agar kamu tidak lagi
malu,
Agar kamu tidak lagi
kesal,
Agar kamu tidak lagi
muak,
Kamis, 27 Juni 2013
Entahlahhh.........................
Entahlah, aku seolah berada dalam dua dunia yang memaksaku menyeretmu dalam narasi lama. Aku tak terlalu pandai mencerca tawamu dalam abai, toh jika waktu akan kembali membiarkanku piatu, mungkin itulah sketsa yang harus aku lewati.
Ada rasa sesak yang memuncak, ketika ternyata rindu ku telan sendirian.Ada segetir rasa takut yang seolah ingin mencengkram tubuhku dalam rasa abai yang berkepanjangan.
kamu tahu, begitu hantaman pilu ku seret sebagai arti dalam kedewasan, aku muak!
Ada rasa sesak yang memuncak, ketika ternyata rindu ku telan sendirian.Ada segetir rasa takut yang seolah ingin mencengkram tubuhku dalam rasa abai yang berkepanjangan.
kamu tahu, begitu hantaman pilu ku seret sebagai arti dalam kedewasan, aku muak!
Senin, 17 Juni 2013
kumpulan puisi (simetas)
HATI VS LOGIKA
Lewat teriakan
lantangnya logika berbicara
Memaki perasaan yang ada
Menanamkan benih
kebencian
Membuahkan keegoisan. .
. . . .
Lewat bisikan
lirihnya hati bersuara
Mencairkan rasa
yang terselubung emosi
Meredam gejolak
ambisi hasutan logika
Meluluhkan
segala keegoisan diri...
Hanyut dalam pertarungan
logika dan hati
Mana yang seharusnya ku
ikuti?
Logika yang yang
senantiasa membenci
Atau hati yang selalu
ikhlas memberi…….
BY:
Lusi Dwi Wahyuni XII-IA-4
SILENT PLEASE!
Sejenak terdiam
hanyut dalam pikiran,
Satu persatu ku urai ribuan kecamuk perasaan,
Yang kini menyatu menjadi butir kehampaan,
Tiba-tiba terlintas sosok itu,
Sosok yang begitu ku kasihi,
Ah,,,bulsit benci ku urai tentang dirimu,
Terlalu banyak goresan luka tersayat,
Begitu rapi kau ukir dihati,
Hingga nyaris membuatku mati rasa!
Aku Benci. . . . . .
Saat kau tak lagi hargai hati,
Aku kecewa. . . . .
Ketika kau kembali
menggoreskan luka,
Huft, perih. . . . .
Saat mau tak mau realita
harus ku terima,
Sadarkah kamu rasa itu berevolusi,
Membawa ku larut dalam
kemunafikan,
Kini nyaris ku benci sosok itu!
Mengapa
seolah-olah aku yang salah,
Saat rasaku
sendiri terabaikan,
Ketika ku paksa
hati pendam keegoisan,
Mereka bilang
cinta tak harus memiliki?
Kau bilang ini
takdir kita?
Ah.....tutup
mulut kalian!
Muak ku dengar
karena kalian tak rasa,
Hentikan ocehan
yang menyuruhku bersabar!
Cukup dan jangan
keluarkan omong kosong kalian. . .
Aku manusia biasa,
Bukan nabi juga
malaikat,
Mampu tertawa juga
terluka,
Ku punya rasa ingin
dibalas,
Ku punya hati ingin
disambut,
Ku punya nafsu ingin dilihat,
Ku punya rasa bisa sakit,
Ku punya hati bisa
menangis,
Ku punya nafsu bisa
berontak. . .
Hah, sudahlah. .
. .Lupakan saja!
Apa yang ku urai
hari ini,
Lanjutkan kisahmu
dengannya,
Namun ku ingatkan
hukum karma jangan kau abaikan,
Walau pelan ku
yakin kan datang,
Agar kau tahu
rasaku ini,
Ukiran sakit yang
juga harus kau nikmati,
Selamat tinggal
penjahat kelamin,
Terima kasih
untuk kolaborasi rasa yang kau hadirkan!
BY:
Lusi Dwi Wahyuni XII-IA-4
”Nyatanya Kau PK”
Mulanya kau
datang bagai seorang pahlawan,
Membawaku berlari
dari luka yang menyakitkan,
Dengan semboyan
janji yang kau ikrarkan,
Kau tepis semua
keraguan!
Lambat laun kau
bermetafase,
Menjadi penjilat
sumpahmu sendiri,
Hingga kini
begitu nampak dalam dirimu,
Kau bagai titisan
Dajjal!
Terlalu singkat kau deskripsikan kisah barumu,
Terlalu lancang kau hakimi aku dengan ribuan
celamu,
Kau abaikan hukum karma,
Sedang kau lupa sebuah hati terluka!
Terlalu naif kau berkata akan menjaga kesuciannya,
Jelas-jelas separuh kehormatanku tlah kau cicipi,
Dengan sombong kau pamer kebahagiaan,
Kau vonis murah harga diriku!
Ku kira kau malaikat,
Namun nyatanya kau penjilat,
Kini ku sadari kau jelmaan iblis,
Sesosok penjahat kelamin yang berlaga mistis!
Arrghh. . . yang harus kau tau,
Bagiku kau tlah mati,
Ya. . . yang ku tahu kau tlah mati!
Serta luka ini akan ku kubur dan obati sendiri. . .
Silahkan tertawa,
Karena hari ini kau menang,
Ku ucapkan terima kasih,
Untuk kolaborasi rasa yang
kau hadirkan!
Di ujung batas perpisahan,
Logika berbisik kobarkan
dendam,
Selamat tinggal Penjahat
kelamin,
Semoga tak bertemu di masa
depan!
BY: Lusi Dwi Wahyuni XII-IA-4
Akhir Kisah Putih Abu-abu
Haru tak tertahan kala mengingatnya,
Namun hari itu pasti akan tiba,
Waktu enggan mengalah untuk mengulurnya,
Aku memilih pasrah untuk menyambutnya. . .
Sejenak hanyut dalam
pusaran arus ingatan,
Ku reka ulang ribuan cerita
yang tersimpan,
Sekilas muncul sesosok
bayangan yang ku coba musnahkan,
Kisah putih abu-abu yang tak
mungkin terlupakan. . .
Kadang menatapmu dari jauh saja aku bahagia,
Meski tak harus dekat menjadi pemilik hatimu,
Bahkan Sejak kau pilih pelabuhan hati baru,
Aku mundur tertatih menahan realita!
Pancaran sinar keteduhan
dimatamu,
Meredup tak mampu memantul
pada mataku,
Titik fokus sinar itu
tertuju untuknya,
Ya . . . . aku tahu tentu
untuk dia!
Entah harus sedih atau senang,
Untuk menyambut hari itu datang,
Mungkin senang sebab ini awal melangkah kedepon,
Namun juga sedih karena akan kehilangan teman, guru, juga kamu!!
BY:
Lusi Dwi .W. (XII-IA-4)
ANDAI WAKTU BERPUTAR KEMBALI (CERPEN SIMETAS 2011)
Matahari telah selesai bertugas, kini kembali
keperaduannya. Ku pandangi lekat-lekat, bagaimana dia menghilang lalu langit
menjadi gelap perlahan.
Entah apa penyebabnya, tiba-tiba pikiranku melayang. Teringat kisah yang hampir berlalu 1 tahun lamanya. Hari itu adalah pertama masuk sekolah, setelah 2 minggu libur semester genap. “Hai yun! yun. . . yuni!", ku dengar sebuah suara yang tak asing menyapa. "Hai, juga Lia sayang", sambutku dengan wajah berbinar. Yuni Dwi Artika itulah nama panjangku. Tadi itu Lia Permatasari, Lia adalah sahabatku sejak aku duduk dikelas 6 SD. Ketika SMP kami juga satu sekolah. Hingga SMA kelas XI, kami selalu terlihat kompak dan selalu satu kelas. "Kamu kelas XI-IPA-4 juga kan yun?", tanya Lia. "Iya dong, kita kan soulmate", jawabku diiringi tawa terbahak-bahak. Dengan ditemani canda-tawa kami pun segera menuju kelas yang dimaksud yaitu XI-IPA-4. Aku senang mengenal Lia, dia pendengar yang setia. Saat setumpuk masalah menghampiriku terutama my love problem dia selalu ada mendengarkan keluh kesahku dan tak lupa sedikit masukan serta solusi darinya. She is the my best friend.
Entah apa penyebabnya, tiba-tiba pikiranku melayang. Teringat kisah yang hampir berlalu 1 tahun lamanya. Hari itu adalah pertama masuk sekolah, setelah 2 minggu libur semester genap. “Hai yun! yun. . . yuni!", ku dengar sebuah suara yang tak asing menyapa. "Hai, juga Lia sayang", sambutku dengan wajah berbinar. Yuni Dwi Artika itulah nama panjangku. Tadi itu Lia Permatasari, Lia adalah sahabatku sejak aku duduk dikelas 6 SD. Ketika SMP kami juga satu sekolah. Hingga SMA kelas XI, kami selalu terlihat kompak dan selalu satu kelas. "Kamu kelas XI-IPA-4 juga kan yun?", tanya Lia. "Iya dong, kita kan soulmate", jawabku diiringi tawa terbahak-bahak. Dengan ditemani canda-tawa kami pun segera menuju kelas yang dimaksud yaitu XI-IPA-4. Aku senang mengenal Lia, dia pendengar yang setia. Saat setumpuk masalah menghampiriku terutama my love problem dia selalu ada mendengarkan keluh kesahku dan tak lupa sedikit masukan serta solusi darinya. She is the my best friend.
Hampir 9 bulan aku menjalani
rutinitas sebagai pelajar kelas XI jurusan Ilmu Alam. Alhamdulillah,
teman-teman di kelas semuanya baik, menyenangkan, gokil dan kompak tentunya. Sangat jauh dari perkiraanku sebelum mengenal mereka.. Kami
menamakan kelas XI-IPA-4 dengan nama “SAMPAT”. Seminggu sekali, anak-anak
sampat selalu berkumpul dan bersuka ria berjalan bersama. Menjelajahi satu persatu
tempat yang mereka ingin nikmati. Walau aku tak pernah ikut berpartisipasi
tetapi aku selalu stand by mendengarkan report dari Lia setelah melakukan
refresing bersama. Aku turut senang tiap kali Lia membuka kisah seputar
pengalamannya itu.
Tanpa terduga akhir Februari, bertepatan dengan bulan
kelahiranku, Tio teman sekelasku menunjukkan perlakuan yang berbeda padaku.
Entah apa maksudnya, dia kerap kali menyapaku tanpa alasan logis dan terlihat
iseng. "Yun. . .yuni. .
. .", panggil Tio. Saat itu kita melakukan praktikum kimia di Lab. IPA. "Kenapa?",
ku jawab panggilannya dengan sedikit jutek dan ketus. Jujur aku tak menyukainya tetapi bukan berarti
benci. Tepatnya perasaanku ini biasa saja kepadanya. Tio Alexatria adalah teman
sekelasku yang urakan, seadanya, lumayan tampan tetapi malas mengerjakan tugas.
Aku lebih suka Adi, sahabat karib Tio. Ahmad Adi Hamdani, juga teman sekelasku,
dia pendiam serta bukan tipe cowok gombal. Parasnya manis serta tak kalah
menarik dengan Tio. Namun
sayang, sempat ku dengar selentingan kabar, Adi menyukai Ana. Ana gadis yang
cantik, banyak cowok tertarik padanya, wajar jika memang Adi jatuh hati. Perlahan aku memutuskan untuk memusnahkan rasa itu.
Getar hp dimeja belajar membuyarkan khayalanku malam
itu.
"mlm, lge ap?", pesan dari tio rupanya.
"tdr2an aj", balasku singkat.
"G keluar? Km g pernh ikt ma ank2 ya low da acra kumpul2..,knp?".
"tdr2an aj", balasku singkat.
"G keluar? Km g pernh ikt ma ank2 ya low da acra kumpul2..,knp?".
Ku abaikan pesan itu, sebab terasa bosan ku jelaskan berulang-ulang pada
setiap anak yang bertanya. Pertanyaan mereka selalu sama yaitu menanyakan
alasan ketidakhadiranku.
"sudahku bilang aku malas, aku juga gak begitu suka jalan-jalan", gerutu ku dalam hati. Hampir setiap malam, hp ku tak pernah absen mendapat sms dari Tio. Aku tak menggubrisnya, sebab saat itu aku baru putus cinta, selain itu yang ku harapkan adalah Adi bukan malah Tio cowok urakan yang selalu terlambat datang ke sekolah.
"sudahku bilang aku malas, aku juga gak begitu suka jalan-jalan", gerutu ku dalam hati. Hampir setiap malam, hp ku tak pernah absen mendapat sms dari Tio. Aku tak menggubrisnya, sebab saat itu aku baru putus cinta, selain itu yang ku harapkan adalah Adi bukan malah Tio cowok urakan yang selalu terlambat datang ke sekolah.
Sejak putus cinta dari Vian, malamku
terasa begitu hampa. Sepi dan sunyi kerap kali menjadi teman keseharianku.
Lambat laun hatiku luluh dan aku mulai merespon kehadiran Tio. Dia kini menjadi
penyemangat belajarku. Namun setiap bertemu di sekolah, aku berlaga cuek dan
tak peduli padanya.
"Eh. . .yun, kayaknya Tio naksir kamu deh!", kata Lia.
"Hmmm, masak
sich! Kayaknya gak deh. Kamu ada-ada aja, mana suka dia ama cewek rumahan kayak
aku. Hobinya Tio kan
ngukur jalan, sama tu ma kamu", jawab ku sambil tersenyum.
"Dikasi tahu malah gak percaya kamu yun! Tapi suatu saat kalau Tio
nembak kamu, kamu mau jawab apa?",tanya Lia.
"Gak mungkin Lia! Aduh. . .napa sich. Kamu suka dia? Tapi ntar aku
bakalan jawab iya", balasku sumringah.
"apa yun? Yun, Tio tu playboy sama kayak Vian. Aku harap kamu gak salah milih cowok lagi yun. Banyak yang sering liat Tio boncengan ma cewek, kalau bukan playboy apa dong dia. Please. . . Pikirin yang bener kalau kamu mau jadi ceweknya, ok say!", kata Lia.
"Aku gak akan terima dia kok say! Aku mau nyembuhin patah hatiku dulu", ucapku.
"apa yun? Yun, Tio tu playboy sama kayak Vian. Aku harap kamu gak salah milih cowok lagi yun. Banyak yang sering liat Tio boncengan ma cewek, kalau bukan playboy apa dong dia. Please. . . Pikirin yang bener kalau kamu mau jadi ceweknya, ok say!", kata Lia.
"Aku gak akan terima dia kok say! Aku mau nyembuhin patah hatiku dulu", ucapku.
Empat hari berselang, rupanya Tio benar-benar mengungkapkan perasaannya
padaku.
"aku sayang kamu! Kamu mau jd cewq?".
Aku baca pesan itu dengan campuran rasa tak
karuan. Antara ingin mengisi kekosongan hatiku dan melupakan Vian, atau
mengikuti nasihat Lia tentang rumor yang beredar bahwa Tio adalah tipe cowok playboy.
Tak segera ku balas pesan
itu. Akhirnya ku temukan ide untuk menantangnya menyatakan secara langsung
kepadaku. Keesokan harinya, tepat hari kamis saat praktikum biologi di Lab.
Ipa, Tio mendekatiku dan membisikkan ucapan yang serupa seperti smsnya. Aku
tersentak, dan entah setan apa yang merasuki pikiranku, ku iyakan saja
pertanyaan Tio. Namun aku meminta satu hal padanya untuk merahasiakan terlebih
dahulu hubungan ini. Tio setuju dan ku coba menjalani hubungan diam-diam itu
dengan sepenuh hati.
2 bulan hubunganku dan tio
begitu rapi tersembunyi. Lia sahabatku pun tak tahu tentang ini. Aku pun
memilih untuk tetap diam. Namun nyatanya sepandai-pandainya kita menyimpan
bangkai tentu akan tercium juga. Hal itu terjadi padaku, kini hampir semua anak
mengetahui hubunganku dan tio. Termasuk lia, yang merasa dibohongi olehku.
Namun lia tak sedikit pun marah, justru dia turut bahagia dengan berita itu.
Aku lega, mendengar responnya.
Benar kata pepatah, Semakin tinggi pohon, ternyata angin semakin kencang menghantam. Inilah yang terjadi pada hubunganku dan Tio. Hampir 3 bulan hubungan kami berjalan, banyak gosip bertebaran. Hal itu yang selalu membuat telingaku panas. "yun, maaf ya sebelumnya. Tadi malem aku ketemu Tio jalan ma Eka lo. Dia ngebut dan gak nyapa pula", kata Atun mengawali pembicaraan. "oh. . .gitu ya. Ntar aku tanyak aja ama Tio nya", jawabku dengan nada lemah.
Berita seperti itu, tak hanya satu atau dua kali ku dengar. Ini sudah yang ke empat kali.
"yank..semalem kamu jalan ma sapa", tanyaku dengan wajah manyun.
"apa sich nong, denger dari sapa kamu! Kalau gak liat sendiri tu gak usah dimasukin ke hati", jawab tio dengan santai.
Nong adalah panggilan khusus Tio padaku. Aku senang dengan panggilan itu walau arti sesungguhnya adalah karena dahiku menonjol seperti arwana. Tapi tak apa, aku sayang dia.
Benar kata pepatah, Semakin tinggi pohon, ternyata angin semakin kencang menghantam. Inilah yang terjadi pada hubunganku dan Tio. Hampir 3 bulan hubungan kami berjalan, banyak gosip bertebaran. Hal itu yang selalu membuat telingaku panas. "yun, maaf ya sebelumnya. Tadi malem aku ketemu Tio jalan ma Eka lo. Dia ngebut dan gak nyapa pula", kata Atun mengawali pembicaraan. "oh. . .gitu ya. Ntar aku tanyak aja ama Tio nya", jawabku dengan nada lemah.
Berita seperti itu, tak hanya satu atau dua kali ku dengar. Ini sudah yang ke empat kali.
"yank..semalem kamu jalan ma sapa", tanyaku dengan wajah manyun.
"apa sich nong, denger dari sapa kamu! Kalau gak liat sendiri tu gak usah dimasukin ke hati", jawab tio dengan santai.
Nong adalah panggilan khusus Tio padaku. Aku senang dengan panggilan itu walau arti sesungguhnya adalah karena dahiku menonjol seperti arwana. Tapi tak apa, aku sayang dia.
4 mei 2010, adalah akhir
dari hubunganku dan Tio. Tepat pukul 06.00 WIB, Tio memutuskan menyudahi
hubungan ini, setelah semalam sempat terjadi insiden keributan dengannya. Aku
mati gaya! Tak mampu ku tepis kenyataan.Bahwa memang dia telah membulatkan
keputusannya. Padahal hanya masalah sepele yang terjadi. Namun mengapa dengan
mudah dia, putuskan akhiri semua.
"maaf. . .yun! Sampek sini aj hub. Kita. Km jalan aja sana ma Gian. Biarin masalah nyesel apa gaknya keputusanku ini, apa katanya nanti". Pesan itu yang dia kirim sebagai tanda akhir hubungan kita.
Nyatanya dia menuduhku selingkuh dengan Gian adik kelasku. Padahal sebenarnya, semalam aku hanya meminta Gian mengantarkan aku mengerjakan tugas ke rumah Dewi. Itu pun karena Tio tak mau mengantarkan aku, justru Tio memilih jalan dengan Eka malam itu. Apa yang salah? Toh Tio juga bersama dengan cewek lain malam itu.
"Tio. . Aku minta maaf! Aku gak mau putus", ku balas pesan tadi dengan linangan airmata.
"udah g usah g2, jalanin aj yg sekarang. Aku bkaln ngangGEP km adk ku aj", semangat n0ng!",balasnya tanpa ragu sedikit pun.
11 bulan berlalu, aku masih belum sepenuhnya mampu melupakan tio. Padahal , Tio telah memiliki cinta baru. Aku kerap kali terbakar cemburu, melihatnya. Namun apa dayaku! Aku hanyalah sang mantan. Masalalu yang tak punya arti baginya.
"lia. . . . Aku nyesel. Kenapa gak ikuTin omonganmu dulu", kata ku.
"udahlah yun. . .kita udah hampir lulus! Bentar lagi, kamu bakalan bisa lupain tio. Kamu juga gak perlu liat kebahagiaan dia ma fita",hibur lia.
"aku mau jujur ma kamu, sebenarnya tio adalah cowok yang dapat ciuman pertamaku", ungkap ku terbata-bata.
"maaf. . .yun! Sampek sini aj hub. Kita. Km jalan aja sana ma Gian. Biarin masalah nyesel apa gaknya keputusanku ini, apa katanya nanti". Pesan itu yang dia kirim sebagai tanda akhir hubungan kita.
Nyatanya dia menuduhku selingkuh dengan Gian adik kelasku. Padahal sebenarnya, semalam aku hanya meminta Gian mengantarkan aku mengerjakan tugas ke rumah Dewi. Itu pun karena Tio tak mau mengantarkan aku, justru Tio memilih jalan dengan Eka malam itu. Apa yang salah? Toh Tio juga bersama dengan cewek lain malam itu.
"Tio. . Aku minta maaf! Aku gak mau putus", ku balas pesan tadi dengan linangan airmata.
"udah g usah g2, jalanin aj yg sekarang. Aku bkaln ngangGEP km adk ku aj", semangat n0ng!",balasnya tanpa ragu sedikit pun.
11 bulan berlalu, aku masih belum sepenuhnya mampu melupakan tio. Padahal , Tio telah memiliki cinta baru. Aku kerap kali terbakar cemburu, melihatnya. Namun apa dayaku! Aku hanyalah sang mantan. Masalalu yang tak punya arti baginya.
"lia. . . . Aku nyesel. Kenapa gak ikuTin omonganmu dulu", kata ku.
"udahlah yun. . .kita udah hampir lulus! Bentar lagi, kamu bakalan bisa lupain tio. Kamu juga gak perlu liat kebahagiaan dia ma fita",hibur lia.
"aku mau jujur ma kamu, sebenarnya tio adalah cowok yang dapat ciuman pertamaku", ungkap ku terbata-bata.
"what? Tio dah pernah cium kamu! Yun. . .please kamu gak perlu sesali
itu. Mau nangis darah sekalipun tio gak akan balik. Dia udah punya Fita.
Ayolah, sampai kapan kamu hidup dalam bayangan menyakitkan itu. Jadikan
pelajaran, bahwa cowok yang beneran tulus ma kita, gak akan berani nyentuh
secuil pun dari tubuh kita. Apalagi dia berani cium kamu, lalu seenaknya aj
putusin kamu". ”Aku masih sayang dia, aku juga masih aja ngerasa cemburu
tiap liat Tio ma Fita di sekolah!”. ”Ok Sayang! aku ngerti kok. Lupain
seseorang itu gak mudah. Tapi mau sampai kapan kamu terpuruk, mikirin orang
yang sama sekali gak mikirin kamu. Percayalah, ada yang lebih baik untukmu
diluar sana”, tutur Lia dengan senyum kehangatan.
Kini
hanya penyesalan yang tersisa atas semua nasihat Lia yang telah aku abaikan, andai
waktu dapat ku putar kembali. Takkan ku biarkan cinta palsu Tio, merasuki
hatiku. Dan bodohnya aku mengira cinta sesaatnya sebagai cinta abadi, hingga ku
relakan dia mengecup bibirku waktu itu. Perasaan sayang, bukan ditunjukkan
dengan perlakuan merusak moral agama seperti itu.
”Yuni,,,yun...kok malah bengong gitu! Ayo sholat
udah mau habis itu maghribnya”. Suara ibu membuyarkan semua lamunanku. ”Oh,
tuhan....barusan aku ngelamun! Huft...maafkan dosa-dosa hamba ya.. Robb”,
ucapkan sambil beranjak dari kursi.
^SELESAI^
By:
Lusi Dwi Wahyuni (XII-IA-4)
Langganan:
Postingan (Atom)



