Powered By Blogger

Rabu, 15 Oktober 2014

ingatan.............

kekosongan yang membuatku belajar menerima ruang gelap ini. dibalik kemelut yang kerap kali ku simpan dalam tangis. seperti hendaknya waktu, yang terus saja tak henti berlalu, hingga jutaan cerita dengan begitu mudah terurai. disini, tempat dimana mereka tak pernah tahu, bahwa hatiku benar-benar cidera. disini pula, tempat dimana aku mengadu bahwa aku tlah sampai pada batas dimana aku sudah tak mampu lagi mengerti!
aku tahu sebagian dari mereka diam-diam tertawa, mungkin mereka berfikir, betapa kebodohan nyaris tak dapat ku bedakan dalam keadaan ini!
namun siapa mereka! jelas mereka tak pernah tahu apa yang terjadi sejauh ini.
bukan soal bagaimana pergi dan melupakan. ingatan tak semudah memory yang mudah diformat. ingatan manusia terlalu kuat, bahkan jika ambisi terlalu hebat menghapus, ku rasa kalian manusia terbodoh yang meyakini hal itu dapat terjadi!
aku memang sudah terlalu lama disini. membalut perih yang tak berdarah namun terasa teramat sakit. ya... aku sendirian disini. hanya untuk sekedar berharap bahwa waktu mampu membuatnya kembali pulih. tak lagi senyeri ini. aku tak kuat! aku juga lelah! aku muak,, muak dengan kebodohan yang kalian sering sepelekan.
aku bosan, bosan dibully oleh semua kehampaan yang terlalu nista diakui. sungguh jika hatiku dapat langsung bersuara, ku yakin dia juga sepaham denganku. ku tahu, dia juga amat sangat lelah.
tetapi bagaimana aku berlari hingga semua nyaris tak terasa lagi. sementara aku selalu mengikat ingatan pada bayang-bayang semu. pada kenangan. lebih tepatnya masa lalu. masa yang mungkin tak terlalu banyak orang mengingatnya. kenapa aku tak jua dapat melepaskan diri. coba katakan dengan lantang, apa salahku pada harapan-harapan baik masa depanku. hingga masalalu menjadi sesuatu yang tak pernah berhenti membantai ketegaranku. apa salahku!!!
katakan jika memang kau benar-benar berani, dan bukan seorang pecundang sejati!
sini!!!
lihat ke arahku, tapi bukan berarti aku minta belas kasihan. TIDAK SAMA SEKALI! ku pertegas, sekali lagi, aku benci pada sosokmu. aku benci!!! aku benci!!!
pergi!!!!
pergi sana!!!
jangan pernah datang lagi!!!!

Minggu, 12 Oktober 2014

Aku menulis ini ketika jutaan kata sudah tak mampu mengungkapkan luapan rasaku. Ketika airmata terasa mengering setelah semalaman ku kuras habis hanya untuk menangisi kamu.
Ya....kamu!
Kamu yang mengatakan tak lagi memperdulikan aku. Kamu yang dengan lantang berikrar tak lagi punya rasa untukku. 
Aku sakit! Untuk suatu perbuatan yang sama sekali tak kamu hiraukan.
Aku kecewa! Dengan setiap ungkapan yang terasa miris untuk ku terima.
Tuhan, apa tidak boleh aku berharap, untuk ENGKAU hapuskan rasa ini. 
Aku sudah terlalu lelah seperi ini. Aku lelah bermain-main dengan harapan kosong, yang jelas ku tahu tak akan seindah apa yang aku inginkan. 

aku jelas tahu, kamu menertawai kebodohanku.
tapi seandainya kamu merasa diposisi ini, dapatkah kamu berlari ketika hatimu terasa tak mampu menepis dan membohongi diri sendiri.

ya ALLAH ...
ya TUHANKU...
salahkah jika aku berharap bahagiaku nanti lebih lama dari sedihku hari ini.
biarlah ku alami pahit ini, dan ku hanya dapat menjalaninya karena memang kewajibanku adalah belajar menerima semua dengan keikhlasan. keikhlasan yang masih teramat sulit ku terapkan. kesabaran dan ketegaran yang acap kali hilang lenyap pelan-pelan. dan semangatku yang meredup diam-diam, dalam kekecewaan yang terasa begitu pedih di dada. namun tak berdarah, walau begitu memedihkan.

semoga esok aku bisa pelan-pelan membangun harapan baik bagi masa depanku yang lebih baik. masalaluku memang kelam, dan ku berharap masa depanku jauh lebih indah...
terima kasih YA ALLAH.
ridoilah jalanku ini.
BISMILLAH ^_^

Minggu, 31 Agustus 2014

ya ALLAH .....

1 september 2014
apakah aku terlalu lemah. hingga selalu saja dengan nada keras kamu mengajariku. aku manusia biasa, apa pernah kamu berfikir sedikit saja, tentang hati yang kerap kali terlukai oleh ucapan itu. oleh lontaran kalimat-kalimat itu.
yaa... ok! AKU SALAH....
itu pengakuan yang dapat aku buat ,,, diam-diam ku simpan dengan rapat tentang hatiku yang terus terkoyak.. tak perlu iba. aku sudah biasa mengalaminya, namun aku lelah.
apa tidak boleh, aku berharap kamu menjadi sedikit saja lembut. lembut kepada ku.

ya, mungkin menurutmu aku sangat pantas untuk dihakimi. aku terima itu, sebagai bentuk teguran atas ketegasan yang tak ku miliki. tetapi sekali lagi ku sampaikan Aku LELAH!!!!!
AKU punya perasaan, aku juga bisa marah. aku juga bisa sedih, aku juga bisa menangis, aku juga bisa salah. dan banyak salah..............

yyyyyyaa ALLAH,,,, ^_^ MAAFKAN AKU yang selalu mengeluh. tapi sakit rasanya ya ALLAH.
Dan aku tak tahu harus berbuat apa lagi.

Sabtu, 08 Februari 2014

Bernama Saya dan Kamu



Serasa kehabisan cara mendepakmu dari hati juga pikiran. Mungkin kamu lupa, sudah lupa semua tentang saya. Saya yang perlahan menyadari posisi yang terasingkan oleh pergaulan yang semakin menenggelamkan sosok bernama saya. Bisakah yang bernama kamu merasa? Secuil saja rasa hampa tanpa saya. Mungkin tidak ya? Karena saya tahu, duniamu kini sudah teramat berwarna. Sadarkah kamu, yang bernama saya sedang menahan pedih tak tertahan, akibat terlupa untuk kesekian peristiwa. Benarkah tak sedetik saja, bayangan saya melintas pada pikiran kamu? Meski yang muncul hanya berupa kenangan terburuk dari yang bernama saya, yang tentunya selalu melekat sejak kamu mengecap saya. Membuat yang bernama kamu merasa tak nyaman, tak suka melihat yang bernama saya meneteskan butiran bening dari sudut-sudut kelopak matanya. Lupakah kamu tentang indahnya tawa saya, yang semua itu selalu berawal dari kamu. Ya.. yang bernama kamu namun menghilang saat ini.
Lalu apa yang harus saya tuliskan lagi, sementara sosok kamu yang dulu ada, telah berubah menjadi apa yang nyaris tak saya kenali. Inikah kamu yang sebenarnya? Yang dulu hanya berpura-pura nyaman bersama saya, namun ternyata hati kecil kamu tak dapat berbohong lama-lama, bahwa sebenarnya sosok saya hanya pantas dibuang dan tak lagi berhak ditolehi barang sedetik pun.
Kamu baik-baik ya disana. Saya tidak mungkin membenci kamu, saya hanya kecewa dengan apa yang tak pernah ku duga semula. Tenanglah kamu, saya akan mencoba berpura-pura tak sakit melihatmu dengan dia atau mereka atau siapa saja yang kamu mau.
Tapi kamu juga harus tahu, tak selamanya saya merasa nyaman berbohong pada hati terdalam saya, mungkin saya akan lelah. Jika akhir-akhir ini saya menguatkan hati untuk sekedar menjauh itu bukan berarti saya tak suka ada kamu dan melihat kamu. Terapi tidak lain, saya ingin membuat diri saya sadar, impian saya dan kamu yang pernah saya sebut sebagai KITA itu hanya harapan yang tak akan terwujud sampai kapanpun.
Buat yang bernama saya, tolonglah jangan terus-terusan bermimpi. Biarkan kamu meraih bahagianya, meski hati saya akan terus merasa teriris.
Buat yang bernama kamu, saya mohon maaf belum mampu membuat degup saya berdetak biasa. Tapi saya akan berusaha, membuatnya biasa, agar tak lagi mengganggu KAMU!

“AKU YANG SEKARANG”



Mau sampai kapan menunggu? Bukankah teramat jelas terlihat, dia tak sedikitpun merasai rasaku. Apa yang harus di nantikan dari seseorang yang justru teramat sering melupakanmu dan tak pernah memprioritaskanmu! Jangan bodoh! Jangan terus-terusan hanyut pada rasa yang tak pernah punya harga meski secuil. Dimana harga diriku letakkan, ketika mati-matian aku belajar beradaptasi dengan pengabaian? Mengapa masih terlihat begitu tolol! Dia tak pernah tahu rasanya terhempas begitu dalam, lalu apa yang membuatmu masih terus diam dalam pijakan yang rapuh tanpa sisa. Masih pantaskan berharap pada sesuatu yang bahkan tak pernah mengangapmu ada walau nyata! Lalu harus terabaikan seperti apa lagi untuk bisa menyadari, bahwa aku tak berharga, tak pernah penting dihadapan orang yang kau utamakan!
Tetapi mana mungkin dapat ku hapus rasa secepat kau berlari menjauhiku. Aku masih terlalu lemah untuk menghempaskan segala harapan itu, yang ku kira akan menjadi nyata. Tapi apakah iya, aku akan bahagia? Jika toh pada akhirnya aku kembali bersamanya? Bukankah dia tak pernah menghormatiku selama ini? Dia selalu meremehkanku! Lalu apa iya aku masih akan dapat merasakan indahnya dicintai bila dengannya????? Aku tahu itu MUSTAHIL!!!
Lalu jika aku telah mengetahui jawabannya, mengapa masih diam! Mengapa tak bergegas membenahi serpihan hati yang telah porak-poranda itu. Apa yang perlu ditunggu dan dinanti, dari orang yang sama sekali tak mengharapkaku untuk kembali!
Saat ini aku memang belum sepenuhnya mampu berlari, melenyapkan harapan bersamamu. Tapi aku akan mencoba bangkit, disetiap engkau berusaha membuatku jatuh dan tersungkur.
Biarkan airmata menjadi satu-satunya pelampiasanku mencurahkan luka. Kau tak perlu tahu betapa hatiku tercabik-cabik karenamu. Iklaslah! Ku mohon relakan kenyataan ini dalam hidupku, cepat atau lambat kamu juga pasti aakn memperoleh penggantiku. Aku tahu itu, akupun telah menyadarinya sejak awal. Tapi aku hanya berpura-pura bodoh dengan berusaha menyangkalnya. Namun pasti masa itu akan datang. Dan aku akan kembali merasakan kesakitan  karena ditinggalkan dan tersisih dengan yang lebih kau inginkan! SEMANGAT DAN TERSENYUM HANYA ITU YANG KU PUNYA DIBALIK MENYEMBUNYIKAN SEMUA RASA SAKIT DAN KECEWA!!
6 FEBRUARI 2014
09.15
^:_:^

Rabu, 01 Januari 2014

Kita Yang Sekarang



Ada yang diam-diam menyayat ketika ku dapati apa yang ada memang tak pernah lagi sama. Jika waktu hanya bagian dari sekian kronologi yang harus dijalani, lalu mengapakah hati dan rasa tak jua sadar diri! Dimana rasa malu tersimpan rapat, saat dia begitu keras menghempas, namun tetap enggan berdiri menyeimbangkan posisi. Sudahkah tak lagi punya malu???
Tersorot begitu sinis dihadapan mereka. Tak juga menyadari secercah harga diri yang semakin tak punya arti. Masih patutkah disebut wanita??
Ketika rasa hanya menjadi andalan pelecehan perlakuan, ketika terus mengemis namun enggan digubris! Masih belum merasa cukup sadarkah? Untuk tetap berjalan walau tak lagi bersama dia.
Dia????
Dia siapa?
Dia yang terlalu arogan untuk sedikit saja menoleh memberi belas. Dia yang telah lama menghempaskan dirinya untuk lepas dan bebas!
Semacam itukah yang dinantikan? Bersama segudang impian yang terencana dari hati. Yang membungkam sejuta kesakitan,namun enggan tertawa melepaskan belegu yang makin terkoyak dan tak berlogika. Tak muakkah pada diri sendiri yang begitu murah mempertontonkan kelemahannya!!
Ternyata baru sekilas ku sadari, akulah yang terlalu berharapan besar dan enggan berdamai dengan keadaan ^_^