kekosongan yang membuatku belajar menerima ruang gelap ini. dibalik kemelut yang kerap kali ku simpan dalam tangis. seperti hendaknya waktu, yang terus saja tak henti berlalu, hingga jutaan cerita dengan begitu mudah terurai. disini, tempat dimana mereka tak pernah tahu, bahwa hatiku benar-benar cidera. disini pula, tempat dimana aku mengadu bahwa aku tlah sampai pada batas dimana aku sudah tak mampu lagi mengerti!
aku tahu sebagian dari mereka diam-diam tertawa, mungkin mereka berfikir, betapa kebodohan nyaris tak dapat ku bedakan dalam keadaan ini!
namun siapa mereka! jelas mereka tak pernah tahu apa yang terjadi sejauh ini.
bukan soal bagaimana pergi dan melupakan. ingatan tak semudah memory yang mudah diformat. ingatan manusia terlalu kuat, bahkan jika ambisi terlalu hebat menghapus, ku rasa kalian manusia terbodoh yang meyakini hal itu dapat terjadi!
aku memang sudah terlalu lama disini. membalut perih yang tak berdarah namun terasa teramat sakit. ya... aku sendirian disini. hanya untuk sekedar berharap bahwa waktu mampu membuatnya kembali pulih. tak lagi senyeri ini. aku tak kuat! aku juga lelah! aku muak,, muak dengan kebodohan yang kalian sering sepelekan.
aku bosan, bosan dibully oleh semua kehampaan yang terlalu nista diakui. sungguh jika hatiku dapat langsung bersuara, ku yakin dia juga sepaham denganku. ku tahu, dia juga amat sangat lelah.
tetapi bagaimana aku berlari hingga semua nyaris tak terasa lagi. sementara aku selalu mengikat ingatan pada bayang-bayang semu. pada kenangan. lebih tepatnya masa lalu. masa yang mungkin tak terlalu banyak orang mengingatnya. kenapa aku tak jua dapat melepaskan diri. coba katakan dengan lantang, apa salahku pada harapan-harapan baik masa depanku. hingga masalalu menjadi sesuatu yang tak pernah berhenti membantai ketegaranku. apa salahku!!!
katakan jika memang kau benar-benar berani, dan bukan seorang pecundang sejati!
sini!!!
lihat ke arahku, tapi bukan berarti aku minta belas kasihan. TIDAK SAMA SEKALI! ku pertegas, sekali lagi, aku benci pada sosokmu. aku benci!!! aku benci!!!
pergi!!!!
pergi sana!!!
jangan pernah datang lagi!!!!
Ketika lidah kelu untuk sekedar meluapkan kata maka biarkan PENA menari hingga TINTA mampu menyampaikan makna dari rangkaian AKSARA
Rabu, 15 Oktober 2014
Minggu, 12 Oktober 2014
Aku menulis ini ketika jutaan kata sudah tak mampu mengungkapkan luapan rasaku. Ketika airmata terasa mengering setelah semalaman ku kuras habis hanya untuk menangisi kamu.
Ya....kamu!
Kamu yang mengatakan tak lagi memperdulikan aku. Kamu yang dengan lantang berikrar tak lagi punya rasa untukku.
Aku sakit! Untuk suatu perbuatan yang sama sekali tak kamu hiraukan.
Aku kecewa! Dengan setiap ungkapan yang terasa miris untuk ku terima.
Tuhan, apa tidak boleh aku berharap, untuk ENGKAU hapuskan rasa ini.
Aku sudah terlalu lelah seperi ini. Aku lelah bermain-main dengan harapan kosong, yang jelas ku tahu tak akan seindah apa yang aku inginkan.
aku jelas tahu, kamu menertawai kebodohanku.
tapi seandainya kamu merasa diposisi ini, dapatkah kamu berlari ketika hatimu terasa tak mampu menepis dan membohongi diri sendiri.
ya ALLAH ...
ya TUHANKU...
salahkah jika aku berharap bahagiaku nanti lebih lama dari sedihku hari ini.
biarlah ku alami pahit ini, dan ku hanya dapat menjalaninya karena memang kewajibanku adalah belajar menerima semua dengan keikhlasan. keikhlasan yang masih teramat sulit ku terapkan. kesabaran dan ketegaran yang acap kali hilang lenyap pelan-pelan. dan semangatku yang meredup diam-diam, dalam kekecewaan yang terasa begitu pedih di dada. namun tak berdarah, walau begitu memedihkan.
semoga esok aku bisa pelan-pelan membangun harapan baik bagi masa depanku yang lebih baik. masalaluku memang kelam, dan ku berharap masa depanku jauh lebih indah...
terima kasih YA ALLAH.
ridoilah jalanku ini.
BISMILLAH ^_^
Minggu, 31 Agustus 2014
ya ALLAH .....
1 september 2014
apakah aku terlalu lemah. hingga selalu saja dengan nada keras kamu mengajariku. aku manusia biasa, apa pernah kamu berfikir sedikit saja, tentang hati yang kerap kali terlukai oleh ucapan itu. oleh lontaran kalimat-kalimat itu.
yaa... ok! AKU SALAH....
itu pengakuan yang dapat aku buat ,,, diam-diam ku simpan dengan rapat tentang hatiku yang terus terkoyak.. tak perlu iba. aku sudah biasa mengalaminya, namun aku lelah.
apa tidak boleh, aku berharap kamu menjadi sedikit saja lembut. lembut kepada ku.
ya, mungkin menurutmu aku sangat pantas untuk dihakimi. aku terima itu, sebagai bentuk teguran atas ketegasan yang tak ku miliki. tetapi sekali lagi ku sampaikan Aku LELAH!!!!!
AKU punya perasaan, aku juga bisa marah. aku juga bisa sedih, aku juga bisa menangis, aku juga bisa salah. dan banyak salah..............
yyyyyyaa ALLAH,,,, ^_^ MAAFKAN AKU yang selalu mengeluh. tapi sakit rasanya ya ALLAH.
Dan aku tak tahu harus berbuat apa lagi.
apakah aku terlalu lemah. hingga selalu saja dengan nada keras kamu mengajariku. aku manusia biasa, apa pernah kamu berfikir sedikit saja, tentang hati yang kerap kali terlukai oleh ucapan itu. oleh lontaran kalimat-kalimat itu.
yaa... ok! AKU SALAH....
itu pengakuan yang dapat aku buat ,,, diam-diam ku simpan dengan rapat tentang hatiku yang terus terkoyak.. tak perlu iba. aku sudah biasa mengalaminya, namun aku lelah.
apa tidak boleh, aku berharap kamu menjadi sedikit saja lembut. lembut kepada ku.
ya, mungkin menurutmu aku sangat pantas untuk dihakimi. aku terima itu, sebagai bentuk teguran atas ketegasan yang tak ku miliki. tetapi sekali lagi ku sampaikan Aku LELAH!!!!!
AKU punya perasaan, aku juga bisa marah. aku juga bisa sedih, aku juga bisa menangis, aku juga bisa salah. dan banyak salah..............
yyyyyyaa ALLAH,,,, ^_^ MAAFKAN AKU yang selalu mengeluh. tapi sakit rasanya ya ALLAH.
Dan aku tak tahu harus berbuat apa lagi.
Sabtu, 08 Februari 2014
Bernama Saya dan Kamu
Serasa kehabisan cara
mendepakmu dari hati juga pikiran. Mungkin kamu lupa, sudah lupa semua tentang
saya. Saya yang perlahan menyadari posisi yang terasingkan oleh pergaulan yang
semakin menenggelamkan sosok bernama saya. Bisakah yang bernama kamu merasa?
Secuil saja rasa hampa tanpa saya. Mungkin tidak ya? Karena saya tahu, duniamu
kini sudah teramat berwarna. Sadarkah kamu, yang bernama saya sedang menahan
pedih tak tertahan, akibat terlupa untuk kesekian peristiwa. Benarkah tak
sedetik saja, bayangan saya melintas pada pikiran kamu? Meski yang muncul hanya
berupa kenangan terburuk dari yang bernama saya, yang tentunya selalu melekat
sejak kamu mengecap saya. Membuat yang bernama kamu merasa tak nyaman, tak suka
melihat yang bernama saya meneteskan butiran bening dari sudut-sudut kelopak
matanya. Lupakah kamu tentang indahnya tawa saya, yang semua itu selalu berawal
dari kamu. Ya.. yang bernama kamu namun menghilang saat ini.
Lalu apa yang harus
saya tuliskan lagi, sementara sosok kamu yang dulu ada, telah berubah menjadi
apa yang nyaris tak saya kenali. Inikah kamu yang sebenarnya? Yang dulu hanya
berpura-pura nyaman bersama saya, namun ternyata hati kecil kamu tak dapat
berbohong lama-lama, bahwa sebenarnya sosok saya hanya pantas dibuang dan tak lagi
berhak ditolehi barang sedetik pun.
Kamu baik-baik ya
disana. Saya tidak mungkin membenci kamu, saya hanya kecewa dengan apa yang tak
pernah ku duga semula. Tenanglah kamu, saya akan mencoba berpura-pura tak sakit
melihatmu dengan dia atau mereka atau siapa saja yang kamu mau.
Tapi kamu juga harus
tahu, tak selamanya saya merasa nyaman berbohong pada hati terdalam saya,
mungkin saya akan lelah. Jika akhir-akhir ini saya menguatkan hati untuk
sekedar menjauh itu bukan berarti saya tak suka ada kamu dan melihat kamu.
Terapi tidak lain, saya ingin membuat diri saya sadar, impian saya dan kamu
yang pernah saya sebut sebagai KITA itu hanya harapan yang tak akan terwujud
sampai kapanpun.
Buat yang bernama saya,
tolonglah jangan terus-terusan bermimpi. Biarkan kamu meraih bahagianya, meski
hati saya akan terus merasa teriris.
Buat yang bernama kamu,
saya mohon maaf belum mampu membuat degup saya berdetak biasa. Tapi saya akan
berusaha, membuatnya biasa, agar tak lagi mengganggu KAMU!
“AKU YANG SEKARANG”
Mau
sampai kapan menunggu? Bukankah teramat jelas terlihat, dia tak sedikitpun
merasai rasaku. Apa yang harus di nantikan dari seseorang yang justru teramat
sering melupakanmu dan tak pernah memprioritaskanmu! Jangan bodoh! Jangan terus-terusan
hanyut pada rasa yang tak pernah punya harga meski secuil. Dimana harga diriku
letakkan, ketika mati-matian aku belajar beradaptasi dengan pengabaian? Mengapa
masih terlihat begitu tolol! Dia tak pernah tahu rasanya terhempas begitu
dalam, lalu apa yang membuatmu masih terus diam dalam pijakan yang rapuh tanpa
sisa. Masih pantaskan berharap pada sesuatu yang bahkan tak pernah mengangapmu
ada walau nyata! Lalu harus terabaikan seperti apa lagi untuk bisa menyadari,
bahwa aku tak berharga, tak pernah penting dihadapan orang yang kau utamakan!
Tetapi
mana mungkin dapat ku hapus rasa secepat kau berlari menjauhiku. Aku masih
terlalu lemah untuk menghempaskan segala harapan itu, yang ku kira akan menjadi
nyata. Tapi apakah iya, aku akan bahagia? Jika toh pada akhirnya aku kembali
bersamanya? Bukankah dia tak pernah menghormatiku selama ini? Dia selalu
meremehkanku! Lalu apa iya aku masih akan dapat merasakan indahnya dicintai
bila dengannya????? Aku tahu itu MUSTAHIL!!!
Lalu
jika aku telah mengetahui jawabannya, mengapa masih diam! Mengapa tak bergegas
membenahi serpihan hati yang telah porak-poranda itu. Apa yang perlu ditunggu
dan dinanti, dari orang yang sama sekali tak mengharapkaku untuk kembali!
Saat
ini aku memang belum sepenuhnya mampu berlari, melenyapkan harapan bersamamu.
Tapi aku akan mencoba bangkit, disetiap engkau berusaha membuatku jatuh dan
tersungkur.
Biarkan
airmata menjadi satu-satunya pelampiasanku mencurahkan luka. Kau tak perlu tahu
betapa hatiku tercabik-cabik karenamu. Iklaslah! Ku mohon relakan kenyataan ini
dalam hidupku, cepat atau lambat kamu juga pasti aakn memperoleh penggantiku.
Aku tahu itu, akupun telah menyadarinya sejak awal. Tapi aku hanya berpura-pura
bodoh dengan berusaha menyangkalnya. Namun pasti masa itu akan datang. Dan aku
akan kembali merasakan kesakitan karena
ditinggalkan dan tersisih dengan yang lebih kau inginkan! SEMANGAT DAN
TERSENYUM HANYA ITU YANG KU PUNYA DIBALIK MENYEMBUNYIKAN SEMUA RASA SAKIT DAN
KECEWA!!
6 FEBRUARI 2014
09.15
^:_:^
Rabu, 01 Januari 2014
Kita Yang Sekarang
Ada yang diam-diam
menyayat ketika ku dapati apa yang ada memang tak pernah lagi sama. Jika waktu
hanya bagian dari sekian kronologi yang harus dijalani, lalu mengapakah hati
dan rasa tak jua sadar diri! Dimana rasa malu tersimpan rapat, saat dia begitu keras
menghempas, namun tetap enggan berdiri menyeimbangkan posisi. Sudahkah tak lagi
punya malu???
Tersorot begitu sinis
dihadapan mereka. Tak juga menyadari secercah harga diri yang semakin tak punya
arti. Masih patutkah disebut wanita??
Ketika rasa hanya
menjadi andalan pelecehan perlakuan, ketika terus mengemis namun enggan
digubris! Masih belum merasa cukup sadarkah? Untuk tetap berjalan walau tak
lagi bersama dia.
Dia????
Dia siapa?
Dia yang terlalu arogan
untuk sedikit saja menoleh memberi belas. Dia yang telah lama menghempaskan
dirinya untuk lepas dan bebas!
Semacam itukah yang
dinantikan? Bersama segudang impian yang terencana dari hati. Yang membungkam
sejuta kesakitan,namun enggan tertawa melepaskan belegu yang makin terkoyak dan
tak berlogika. Tak muakkah pada diri sendiri yang begitu murah mempertontonkan
kelemahannya!!
Ternyata baru sekilas
ku sadari, akulah yang terlalu berharapan besar dan enggan berdamai dengan
keadaan ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)


