Pernahkah kau mendengar bahwa
memaafkan bukan berarti mengobati? Pernahkan kau merasa baik-baik saja
di antara kecamuk hati yang kau sumpal supaya tidak protes? Ya, tentu
saja kau pernah mendengarnya. Bisa jadi kau bahkan tengah merasakannya.
Sialnya, luka-luka yang kaututup dan kausumpal itu bisa bernanah dan
meletus suatu hari. Kau hanya mampu menangis. Lalu kau menyadari bahwa
lukamu belum terobati dengan cara ‘memaafkan’. Ya, aku tahu sekali kau
sudah melakukan prosesi memaafkan itu dengan amat tulus. Kau sudah
memaafkan apa-apa yang membuatmu sakit. Kau lulus sampai sana. Tapi kau
belum sepenuhnya menerima bukan? Sebab itu kau berjalan ke sana ke mari,
mencari obat. Lukamu nyatanya kembali menganga ketika angin sekadar
menyapa memberi berbagai tanda.
Kau marah. Tapi tidak tahu pada siapa. Hei, kau bahkan tetap menangis tapi tanpa air mata. Kau menyembunyikannya entah di mana. Apa yang kau lakukan? Kau mencari obat itu pada nasihat-nasihat indah. Masih saja kambuh. Kau mencari obat itu pada apa yang membuatmu sakit. Sempat kautemukan. Tapi nyatanya kau jadi bertambah sering sakit. Kau mengaduh. Kau lupa satu hal. Obat itu sangat dekat bukan?
Kau marah. Tapi tidak tahu pada siapa. Hei, kau bahkan tetap menangis tapi tanpa air mata. Kau menyembunyikannya entah di mana. Apa yang kau lakukan? Kau mencari obat itu pada nasihat-nasihat indah. Masih saja kambuh. Kau mencari obat itu pada apa yang membuatmu sakit. Sempat kautemukan. Tapi nyatanya kau jadi bertambah sering sakit. Kau mengaduh. Kau lupa satu hal. Obat itu sangat dekat bukan?
Dirimu sendiri. Kau belum memaafkan
dirimu sendiri. Kau lupa bahwa kau tak pernah bisa menerima semuanya
tanpa memaafkan dirimu sendiri.
~ setiap penerimaan perlu proses dan naik turunnya suatu kekuatan dalam diri hanyalah tanda bahwa kau adalah manusia biasa.
Kau hanya perlu berdiri lagi.
