Powered By Blogger

Jumat, 30 Juni 2017

Memaafkan dan Mengobati Published by ahimsa on June 28, 2016

Pernahkah kau mendengar bahwa memaafkan bukan berarti mengobati? Pernahkan kau merasa baik-baik saja di antara kecamuk hati yang kau sumpal supaya tidak protes? Ya, tentu saja kau pernah mendengarnya. Bisa jadi kau bahkan tengah merasakannya. Sialnya, luka-luka yang kaututup dan kausumpal itu bisa bernanah dan meletus suatu hari. Kau hanya mampu menangis. Lalu kau menyadari bahwa lukamu belum terobati dengan cara ‘memaafkan’. Ya,  aku tahu sekali kau sudah melakukan prosesi memaafkan itu dengan amat tulus. Kau sudah memaafkan apa-apa yang membuatmu sakit. Kau lulus sampai sana. Tapi kau belum sepenuhnya menerima bukan? Sebab itu kau berjalan ke sana ke mari, mencari obat. Lukamu nyatanya kembali menganga ketika angin sekadar menyapa memberi berbagai tanda.
Kau marah. Tapi tidak tahu pada siapa. Hei, kau bahkan tetap menangis tapi tanpa air mata. Kau menyembunyikannya entah di mana. Apa yang kau lakukan? Kau mencari obat itu pada nasihat-nasihat indah. Masih saja kambuh. Kau mencari obat itu pada apa yang membuatmu sakit. Sempat kautemukan. Tapi nyatanya kau jadi bertambah sering sakit. Kau mengaduh. Kau lupa satu hal. Obat itu sangat dekat bukan?
Dirimu sendiri. Kau belum memaafkan dirimu sendiri. Kau lupa bahwa kau tak pernah bisa menerima semuanya tanpa memaafkan dirimu sendiri.
~ setiap penerimaan perlu proses dan naik turunnya suatu kekuatan dalam diri hanyalah tanda bahwa kau adalah manusia biasa.
Kau hanya perlu berdiri lagi.

Sabtu, 17 Juni 2017

HISTORY PAGE ONE

Entah darimana harus ku mulai menuliskan awalannya. Ini tentang kerasnya dunia orang dewasa. Perlahan-lahan namun pasti, kini aku menujunya. Sejuta kata mungkin tak akan pernah cukup untuk membantu meluapkan semua kisah dalam perjalanan hidup yang fana ini. 

Ku awali ini saat diri menginjak bangku Sekolah Dasar. Tak banyak yang dapat ku kisahkan lantaran masa itu aku merasa selalu bahagia menyelimuti hari. Aku hanya tahu betapa menyenangkannya menjadi anak-anak. Meski kadang kala harus dimarahi karena hal-hal sepele, namun hati seorang anak kecil tak akan pernah mendendam. Ada masa jenuh dimana aku tak pandai bergaul. Rasa malu berinteraksi dengan orang lain, membuat diriku terlihat kurang pergaulan. Rata-rata mereka yang tak terlalu dekat menyimpulkan aku pendiam dan pemalu. Namun mereka salah, aku sejatinya periang, banyak hal yang ingin aku ceritakan. Banyak hal yang ingin aku bagikan. Tetapi aku tidak tahu harus ku mulai dari mana semua itu, juga cara dan pada siapa menceritakannya. Jika di masa kecil itu semua anak terlihat bahagia dengan kedua orang tuanya, akupun sama. Aku juga sangat berbahagia lantaran aku hidup bersama kedua orang tua yang dapat dikatakan berkecukupan saat itu. Namun hal yang masih ku ingat jelas, diam-diam aku ingin menangis. Ya... kehidupan rumah tangga tak selalu harmonis. Ada beberapa waktu, dimana pertengkaran ayah dan ibumu harus kau saksikan didepan matamu. Tangisan ibumu yang lirih kau dengar terasa menyayat, tetapi aku hanyalah seorang anak. Aku mendengar, diam-diam ku simpan airmata karena aku malu menangis didepan ayah dan ibu. 

Maafkan kelancanganku menuliskan ini, tetapi yang ingin ku bagi adalah semestinya orang tua tak mempertontonkan keributannya didepan anak-anak mereka. 
Hahh...sudahlah. aku semakin beranjak remaja. Bangku SMP pun ku capai hingga SMA. Namun aku lupa satu hal. Saat beranjak remaja aku tak jua menemukan jati diriku. Aku tak mengerti tujuan hidupku. Banyak hal yang tak bisa ku pelajari dengan baik di masa-masa sekolah. Aku tak pandai! Aku juga tak cerdas. Sungguh tlah ku sia-siakan biaya orang tua menyekolahkanku.


Minggu, 11 Juni 2017

MAAFKAN ^_^

Sudah cukup!!!
Hari ini aku kembali meratap, mengutuk diri akan hal yang tak semestinya ku pikirkan.
Menangis seolah tak cukup membuat sesak di dada ini menghilang.
Betapa dalam luka menentukan sebesar apa harapan yang tak tercapai!
Ya aku terluka.............................................................................
Lebih tepatnya aku yang merasa begitu terluka!

Kepada patah hati yang tak juga memulih banyak airmata yang ku teteskan percuma, entah apa maksud dan niat dari hati dan pikiran!

Betapa mulut begitu mudah berkata ikhlas bahkan rela dengan kenyataan.

Namun hati... entah ini benar-benar suara hati atau hanya sekedar bisikan terkutuk dari setan, aku tak tau jelas, berteriak meminta keadilan!!!!!

Sungguh berdosa diri yang seolah tak terima dengan kehilangan ini.........................

OH TUHAN... YA ROBBI
MAAFKAN HAMBAMU YANG DZALIM INI.

Selasa, 28 Februari 2017

Kemana aku harus mencari???

Memikirkanmu saja seolah aku begitu bahagia, bisa memiliki sepenggal cerita dalam memory yang ku khayalkan. Meski nyatanya setiap aku tersadar kecewa seolah mendera, bahwa hanya dalam kenangan kamu bisa ku temukan.

Apa rasanya menjadi kenangan? Jelas terasa meyedihkan. Sebab kita hanya dikenang oleh ingatanku saja. Tak banyak yang dapat aku goreskan dengan tinta untuk sekedar meluapkan kegundahan ini. Sebab kau tahu kenapa? ya.... sebab aku sendiri tidak pernah tahu alasan pasti kegelisahan ini. Muncul jutaan tanda tanya, yang hanya bisa berputar-putar dikepalaku saja. Tentu masing tentang kamu, tentang kita yang harusnya telah mati, menjadi abu dan debu, layaknya kertas yang terbakar api! Hangus! hanya menyisakan kepedihanku.

Kadang aku mempersalahkan takdir. Mengapa tak juga membabat habis rasa didada. Jika memang karma atas sebuah dosa? Lalu mengapa hanya aku saja yang menanggung semua. Bukankah dulu, semua berawal dari berdua. Meski kini pada akhirnya, hanya tersisa aku yang membalut luka sendiri. Hati yang semula memang sudah pernah tercabik, kini dipatahkan. Bukan cuma hati yang kini patah, tapi juga harapan. Aku seperti manusia yang selalu mencoba memupuk harapan baru namun enggan juga mau tumbuh. Ya... ini bukan hanya sekedar patah hati. Tetapi Luka yang dalam dari sebelumnya! Hati yang lebih hancur dari awalnya. Dan juga kesakitan yang lebih terasa nyeri dibanding kekecewaan yang silam. 

Ini bukan tentang keluhan, ini hanya sekedar luapan. Dari seorang yang awalnya diinginkan, kemudian menjadi seseorang yang tak pernah diharapkan. Rasa yang memudar? ataukah memang sudah bosan. Sedang alasan yang terlontar lantaran cinta memudar dari lubuk hati. 

Kemana? Kemana aku harus mencari keadilan? Kemana aku harus berlari agar lupa rasanya dicampakkan!!!

Kamis, 05 Januari 2017

PADA AKHIRNYA...............

05 JANUARI 2017

Sendiri kadang membuatku merasa lega,
Sebab aku tak harus sibuk menjatuhkan hati dan bersiap dipatahkan.
Meski lega bukan berarti damai!
Mana mungkin hatiku sepenuhnya berdamai ketika diam-diam harapan masa depan ku impikan!

Entah sampai kapan aku mampu menekan naluri perempuan ini,
Perempuan mana yang tak memimpikan seorang lelaki yang mampu merangkul dan menyambutnya dengan hangat.
Tertawa bersama untuk kebahagiaan yang sederhana, saling menghapus airmata saat duka menyelimuti salah satunya.

Satu bulan lagi aku memasuki angka keempat pada usia kepala duaku ini, 
Tentu tak banyak yang aku harapkan, 
Karena terkadang akupun mati akal dan hati untuk menerka apa yang dinamakan kebahagiaan.
Nyaris pikiranku terlalu sempit menyimpulkan arti tawa dan tangis.
Hari-hariku hambar, tak pernah ada yang berwarna.

Suatu hari aku pernah merasa menjatuhkan hati dan memikirkan seseorang berjam-jam dalam sehari,
Sempat berangan bisa masuk dan tinggal bersama pada kehidupannya.
Namun lagi-lagi aku harus memaksa logika untuk membuat hati tak hanyut,
Ya pada akhirnya aku tersadar,
Dia orang yang membuat hatiku kembali merasakan getaran,
Dia orang yang membuat ingatanku melupakan luka silam,
Dia orang yang membuat pikiranku bekerja keras untuk tampil sempurna,
Nyatanya bagai pungguk merindukan bulan!
Terlalu tinggi aku harus menggapainya!
Terlalu rendah tempatku berada!


Pada akhirnya aku tak punya cara lain,
Selain belajar tak menjatuhkan harapan.
Membekukan hatiku diam-diam.
Berpura-pura tak menginginkan siapapun.
Meski gelisah selalu mendera.

Maka aku biarkan kisahku berlalu seiring berjalannya waktu,
Berharap pada satu-satunya Dzat yang padaNYA harus ku gantungkan harap,
Yaitu ALLAH ................ 
Yang tak pernah mengecewakan walau kerap kali aku melupakanNYA!

ASTAGFIRULLAH.........................

Minggu, 17 April 2016

Aku muak pada ingatan tentangmu

Aku seolah tak pandai menerjemahkan deretan rasa
Seolah ada rindu
Pada sekian luka yang melegam menjadi kenangan
Adakah kiranya kau pernah mengingat?
Tentang aku......
Seseorang yang pernah begitu berharap untuk dapat bersandar dibahumu, dipeluk dan dirangkul olehmu?
Ahhhh.....
Omong kosong
Semua itu hanyalah mimpi yang akan merusak masa depanku

Sudahlah!!!
Muak sudah saya denganmu
Semua tentangmu
Hanya kekecewaan, kebencian, dan luka yang terasa ketika mengingatmu!!!!
😀😀😀

Rabu, 09 Maret 2016

GORESAN PENA TANPA MAKNA

Adakah yang lebih menyakitkan, dari rasa yang membuat hati merasa sedih namun tak tahu apa penyebabnya!
Adakah hal yang paling menyulitkan, dari menebak rasa masih tersisa atau nyaris tiada!
Dan adakah sesuatu yang sangat menyusahkan, dari secercah senyum yang habis-habisan dibuat hanya sekedar menyimpulkan bahwa diri masih tetap mencoba baik-baik saja!

Apa kau tahu???
Aku nyaris mati oleh rasa yang membuat ku sendiri bingung akan getarannya yang masih terasa nyata.
Namun dalam sekejap membabi buta seolah semua terasa begitu hambar, hampa dan kosong.
Ya...........semua termakan oleh waktu yang membuatku terbiasa menelan pahitnya kenyataan,
tentang mimpi yang pernah kita bangun bersama tak akan pernah menjadi nyata!
Tak ada namaku dalam rentetan masa depan yang ingin kau bangun,
Kau hanya berpura-pura memasukkan namaku dalam rencana manismu!
Lalu setelah kau yakin bukan AKU yang sesungguhnya kau impikan, kau robek kertas rencana masa depan yang sempat kita rangkai bersama!
Tepat dihadapanku kau bersumpah, tak pernah menginginkan aku menjadi satu-satunya permaisuri yang kau persiapkan menempati tahta hatimu!
Dan dengan sangat lantang kau berteriak, bahwa kini kau telah memutuskan untuk memilih pilihan terbaikmu dari seleksi palsu yang diam-diam kau terapkan.

Apa pernah kau berfikir???
Aku seperti akan mati berdiri mendengar lontaran kalimatmu, bahwa rasamu membiasa, perlahan habis karena TUHAN yang membuatnya tiada!
Jika memang TUHAN yang membuatnya tiada, lalu apakah kau tak ingin mencoba berjuang untuk kembali membuatnya terasa.

Dan lagi-lagi aku merasa menjadi pecundang, yang kerap kali tertipu oleh harapan semu yang hanya menjadi iming-iming semata.
Karena kau tak pernah berniat untuk mewujudkan semuanya!

Setelah beberapa saat aku pun tersadar, penaku menari terlalu lama. Menuliskan apa yang seharusnya tak pernah aku tulis, karena seberapa banyak pun tinta tergores, semua tak pernah memiliki makna yang berarti!


by: LUSI DWI WAHYUNI
0:59 WIB