Memikirkanmu saja seolah aku begitu bahagia, bisa memiliki sepenggal cerita dalam memory yang ku khayalkan. Meski nyatanya setiap aku tersadar kecewa seolah mendera, bahwa hanya dalam kenangan kamu bisa ku temukan.
Apa rasanya menjadi kenangan? Jelas terasa meyedihkan. Sebab kita hanya dikenang oleh ingatanku saja. Tak banyak yang dapat aku goreskan dengan tinta untuk sekedar meluapkan kegundahan ini. Sebab kau tahu kenapa? ya.... sebab aku sendiri tidak pernah tahu alasan pasti kegelisahan ini. Muncul jutaan tanda tanya, yang hanya bisa berputar-putar dikepalaku saja. Tentu masing tentang kamu, tentang kita yang harusnya telah mati, menjadi abu dan debu, layaknya kertas yang terbakar api! Hangus! hanya menyisakan kepedihanku.
Kadang aku mempersalahkan takdir. Mengapa tak juga membabat habis rasa didada. Jika memang karma atas sebuah dosa? Lalu mengapa hanya aku saja yang menanggung semua. Bukankah dulu, semua berawal dari berdua. Meski kini pada akhirnya, hanya tersisa aku yang membalut luka sendiri. Hati yang semula memang sudah pernah tercabik, kini dipatahkan. Bukan cuma hati yang kini patah, tapi juga harapan. Aku seperti manusia yang selalu mencoba memupuk harapan baru namun enggan juga mau tumbuh. Ya... ini bukan hanya sekedar patah hati. Tetapi Luka yang dalam dari sebelumnya! Hati yang lebih hancur dari awalnya. Dan juga kesakitan yang lebih terasa nyeri dibanding kekecewaan yang silam.
Ini bukan tentang keluhan, ini hanya sekedar luapan. Dari seorang yang awalnya diinginkan, kemudian menjadi seseorang yang tak pernah diharapkan. Rasa yang memudar? ataukah memang sudah bosan. Sedang alasan yang terlontar lantaran cinta memudar dari lubuk hati.
Kemana? Kemana aku harus mencari keadilan? Kemana aku harus berlari agar lupa rasanya dicampakkan!!!
