Serasa kehabisan cara
mendepakmu dari hati juga pikiran. Mungkin kamu lupa, sudah lupa semua tentang
saya. Saya yang perlahan menyadari posisi yang terasingkan oleh pergaulan yang
semakin menenggelamkan sosok bernama saya. Bisakah yang bernama kamu merasa?
Secuil saja rasa hampa tanpa saya. Mungkin tidak ya? Karena saya tahu, duniamu
kini sudah teramat berwarna. Sadarkah kamu, yang bernama saya sedang menahan
pedih tak tertahan, akibat terlupa untuk kesekian peristiwa. Benarkah tak
sedetik saja, bayangan saya melintas pada pikiran kamu? Meski yang muncul hanya
berupa kenangan terburuk dari yang bernama saya, yang tentunya selalu melekat
sejak kamu mengecap saya. Membuat yang bernama kamu merasa tak nyaman, tak suka
melihat yang bernama saya meneteskan butiran bening dari sudut-sudut kelopak
matanya. Lupakah kamu tentang indahnya tawa saya, yang semua itu selalu berawal
dari kamu. Ya.. yang bernama kamu namun menghilang saat ini.
Lalu apa yang harus
saya tuliskan lagi, sementara sosok kamu yang dulu ada, telah berubah menjadi
apa yang nyaris tak saya kenali. Inikah kamu yang sebenarnya? Yang dulu hanya
berpura-pura nyaman bersama saya, namun ternyata hati kecil kamu tak dapat
berbohong lama-lama, bahwa sebenarnya sosok saya hanya pantas dibuang dan tak lagi
berhak ditolehi barang sedetik pun.
Kamu baik-baik ya
disana. Saya tidak mungkin membenci kamu, saya hanya kecewa dengan apa yang tak
pernah ku duga semula. Tenanglah kamu, saya akan mencoba berpura-pura tak sakit
melihatmu dengan dia atau mereka atau siapa saja yang kamu mau.
Tapi kamu juga harus
tahu, tak selamanya saya merasa nyaman berbohong pada hati terdalam saya,
mungkin saya akan lelah. Jika akhir-akhir ini saya menguatkan hati untuk
sekedar menjauh itu bukan berarti saya tak suka ada kamu dan melihat kamu.
Terapi tidak lain, saya ingin membuat diri saya sadar, impian saya dan kamu
yang pernah saya sebut sebagai KITA itu hanya harapan yang tak akan terwujud
sampai kapanpun.
Buat yang bernama saya,
tolonglah jangan terus-terusan bermimpi. Biarkan kamu meraih bahagianya, meski
hati saya akan terus merasa teriris.
Buat yang bernama kamu,
saya mohon maaf belum mampu membuat degup saya berdetak biasa. Tapi saya akan
berusaha, membuatnya biasa, agar tak lagi mengganggu KAMU!
