Powered By Blogger

Sabtu, 08 Februari 2014

Bernama Saya dan Kamu



Serasa kehabisan cara mendepakmu dari hati juga pikiran. Mungkin kamu lupa, sudah lupa semua tentang saya. Saya yang perlahan menyadari posisi yang terasingkan oleh pergaulan yang semakin menenggelamkan sosok bernama saya. Bisakah yang bernama kamu merasa? Secuil saja rasa hampa tanpa saya. Mungkin tidak ya? Karena saya tahu, duniamu kini sudah teramat berwarna. Sadarkah kamu, yang bernama saya sedang menahan pedih tak tertahan, akibat terlupa untuk kesekian peristiwa. Benarkah tak sedetik saja, bayangan saya melintas pada pikiran kamu? Meski yang muncul hanya berupa kenangan terburuk dari yang bernama saya, yang tentunya selalu melekat sejak kamu mengecap saya. Membuat yang bernama kamu merasa tak nyaman, tak suka melihat yang bernama saya meneteskan butiran bening dari sudut-sudut kelopak matanya. Lupakah kamu tentang indahnya tawa saya, yang semua itu selalu berawal dari kamu. Ya.. yang bernama kamu namun menghilang saat ini.
Lalu apa yang harus saya tuliskan lagi, sementara sosok kamu yang dulu ada, telah berubah menjadi apa yang nyaris tak saya kenali. Inikah kamu yang sebenarnya? Yang dulu hanya berpura-pura nyaman bersama saya, namun ternyata hati kecil kamu tak dapat berbohong lama-lama, bahwa sebenarnya sosok saya hanya pantas dibuang dan tak lagi berhak ditolehi barang sedetik pun.
Kamu baik-baik ya disana. Saya tidak mungkin membenci kamu, saya hanya kecewa dengan apa yang tak pernah ku duga semula. Tenanglah kamu, saya akan mencoba berpura-pura tak sakit melihatmu dengan dia atau mereka atau siapa saja yang kamu mau.
Tapi kamu juga harus tahu, tak selamanya saya merasa nyaman berbohong pada hati terdalam saya, mungkin saya akan lelah. Jika akhir-akhir ini saya menguatkan hati untuk sekedar menjauh itu bukan berarti saya tak suka ada kamu dan melihat kamu. Terapi tidak lain, saya ingin membuat diri saya sadar, impian saya dan kamu yang pernah saya sebut sebagai KITA itu hanya harapan yang tak akan terwujud sampai kapanpun.
Buat yang bernama saya, tolonglah jangan terus-terusan bermimpi. Biarkan kamu meraih bahagianya, meski hati saya akan terus merasa teriris.
Buat yang bernama kamu, saya mohon maaf belum mampu membuat degup saya berdetak biasa. Tapi saya akan berusaha, membuatnya biasa, agar tak lagi mengganggu KAMU!

“AKU YANG SEKARANG”



Mau sampai kapan menunggu? Bukankah teramat jelas terlihat, dia tak sedikitpun merasai rasaku. Apa yang harus di nantikan dari seseorang yang justru teramat sering melupakanmu dan tak pernah memprioritaskanmu! Jangan bodoh! Jangan terus-terusan hanyut pada rasa yang tak pernah punya harga meski secuil. Dimana harga diriku letakkan, ketika mati-matian aku belajar beradaptasi dengan pengabaian? Mengapa masih terlihat begitu tolol! Dia tak pernah tahu rasanya terhempas begitu dalam, lalu apa yang membuatmu masih terus diam dalam pijakan yang rapuh tanpa sisa. Masih pantaskan berharap pada sesuatu yang bahkan tak pernah mengangapmu ada walau nyata! Lalu harus terabaikan seperti apa lagi untuk bisa menyadari, bahwa aku tak berharga, tak pernah penting dihadapan orang yang kau utamakan!
Tetapi mana mungkin dapat ku hapus rasa secepat kau berlari menjauhiku. Aku masih terlalu lemah untuk menghempaskan segala harapan itu, yang ku kira akan menjadi nyata. Tapi apakah iya, aku akan bahagia? Jika toh pada akhirnya aku kembali bersamanya? Bukankah dia tak pernah menghormatiku selama ini? Dia selalu meremehkanku! Lalu apa iya aku masih akan dapat merasakan indahnya dicintai bila dengannya????? Aku tahu itu MUSTAHIL!!!
Lalu jika aku telah mengetahui jawabannya, mengapa masih diam! Mengapa tak bergegas membenahi serpihan hati yang telah porak-poranda itu. Apa yang perlu ditunggu dan dinanti, dari orang yang sama sekali tak mengharapkaku untuk kembali!
Saat ini aku memang belum sepenuhnya mampu berlari, melenyapkan harapan bersamamu. Tapi aku akan mencoba bangkit, disetiap engkau berusaha membuatku jatuh dan tersungkur.
Biarkan airmata menjadi satu-satunya pelampiasanku mencurahkan luka. Kau tak perlu tahu betapa hatiku tercabik-cabik karenamu. Iklaslah! Ku mohon relakan kenyataan ini dalam hidupku, cepat atau lambat kamu juga pasti aakn memperoleh penggantiku. Aku tahu itu, akupun telah menyadarinya sejak awal. Tapi aku hanya berpura-pura bodoh dengan berusaha menyangkalnya. Namun pasti masa itu akan datang. Dan aku akan kembali merasakan kesakitan  karena ditinggalkan dan tersisih dengan yang lebih kau inginkan! SEMANGAT DAN TERSENYUM HANYA ITU YANG KU PUNYA DIBALIK MENYEMBUNYIKAN SEMUA RASA SAKIT DAN KECEWA!!
6 FEBRUARI 2014
09.15
^:_:^