Powered By Blogger

Senin, 22 Juli 2013

SUPAYA KAMU


Sejak itu berat titian langkah ku lalui. Kini ragu telah menumpuk hingga menggunung. Ada sesak yang tak mudah terlantunkan dalam barisan bibirku yang mengatup karena terlalu takut.
Tak ibahkah????
Atau memang takkan pernah ada iba???
Sekian jauh perjalanan masihkah sanggup aku lanjutkan, setelah sekian waktu terdepak dengan begitu biadap????
Ataukah aku yang salah memaknai apa yang tlah tak lagi hidup????
Dibalik dada berupa segumpal dagingmu!
Mereka sebut “HATI”.....
Aku sudah mencoba berlari semampu sisa energiku, tapi tak pernah lebih cepat dari hasratku untuk tetap menunggu, menunggu hingga kedua bola matamu terbelalak atau bahkan bila perlu sampai melompat keluar meninggalkan ragamu...
Ingin sekali aku mendepak diriku lebih keras dari hentakan kemarahanmu! Terlalu nistakah berharap pada tumpuan yang seolah semakin rapuh dan lenyap!!
Sakit luar dan dalam, seperti teriris pisau yang ku pakai sendiri. Seperti tertindas truk tapi seolah ruh enggan beranjak dari jasad.
Koma..............................................................................................................
Seperti orang yang tertidur namun nyatanya menunggu ajal.
Bolehlah mereka berkata begitu ringan, namun semua rasa kembali pada diri yang merasai. Jika semudah membalikkan telapak tangan, telah ku hantamkan jauh-jauh hari rasa ini ke tong sampah!
Agar kamu juga tahu, betapa aku tak ingin menyiksa dan tersiksa karenanya.
Agar kamu tidak lagi malu,
Agar kamu tidak lagi kesal,
Agar kamu tidak lagi muak,