Powered By Blogger

Sabtu, 17 Juni 2017

HISTORY PAGE ONE

Entah darimana harus ku mulai menuliskan awalannya. Ini tentang kerasnya dunia orang dewasa. Perlahan-lahan namun pasti, kini aku menujunya. Sejuta kata mungkin tak akan pernah cukup untuk membantu meluapkan semua kisah dalam perjalanan hidup yang fana ini. 

Ku awali ini saat diri menginjak bangku Sekolah Dasar. Tak banyak yang dapat ku kisahkan lantaran masa itu aku merasa selalu bahagia menyelimuti hari. Aku hanya tahu betapa menyenangkannya menjadi anak-anak. Meski kadang kala harus dimarahi karena hal-hal sepele, namun hati seorang anak kecil tak akan pernah mendendam. Ada masa jenuh dimana aku tak pandai bergaul. Rasa malu berinteraksi dengan orang lain, membuat diriku terlihat kurang pergaulan. Rata-rata mereka yang tak terlalu dekat menyimpulkan aku pendiam dan pemalu. Namun mereka salah, aku sejatinya periang, banyak hal yang ingin aku ceritakan. Banyak hal yang ingin aku bagikan. Tetapi aku tidak tahu harus ku mulai dari mana semua itu, juga cara dan pada siapa menceritakannya. Jika di masa kecil itu semua anak terlihat bahagia dengan kedua orang tuanya, akupun sama. Aku juga sangat berbahagia lantaran aku hidup bersama kedua orang tua yang dapat dikatakan berkecukupan saat itu. Namun hal yang masih ku ingat jelas, diam-diam aku ingin menangis. Ya... kehidupan rumah tangga tak selalu harmonis. Ada beberapa waktu, dimana pertengkaran ayah dan ibumu harus kau saksikan didepan matamu. Tangisan ibumu yang lirih kau dengar terasa menyayat, tetapi aku hanyalah seorang anak. Aku mendengar, diam-diam ku simpan airmata karena aku malu menangis didepan ayah dan ibu. 

Maafkan kelancanganku menuliskan ini, tetapi yang ingin ku bagi adalah semestinya orang tua tak mempertontonkan keributannya didepan anak-anak mereka. 
Hahh...sudahlah. aku semakin beranjak remaja. Bangku SMP pun ku capai hingga SMA. Namun aku lupa satu hal. Saat beranjak remaja aku tak jua menemukan jati diriku. Aku tak mengerti tujuan hidupku. Banyak hal yang tak bisa ku pelajari dengan baik di masa-masa sekolah. Aku tak pandai! Aku juga tak cerdas. Sungguh tlah ku sia-siakan biaya orang tua menyekolahkanku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar