Sejak itu berat titian
langkah ku lalui. Kini ragu telah menumpuk hingga menggunung. Ada sesak yang
tak mudah terlantunkan dalam barisan bibirku yang mengatup karena terlalu
takut.
Tak ibahkah????
Atau memang takkan
pernah ada iba???
Sekian jauh perjalanan
masihkah sanggup aku lanjutkan, setelah sekian waktu terdepak dengan begitu
biadap????
Ataukah aku yang salah
memaknai apa yang tlah tak lagi hidup????
Dibalik dada berupa
segumpal dagingmu!
Mereka sebut
“HATI”.....
Aku sudah mencoba
berlari semampu sisa energiku, tapi tak pernah lebih cepat dari hasratku untuk
tetap menunggu, menunggu hingga kedua bola matamu terbelalak atau bahkan bila
perlu sampai melompat keluar meninggalkan ragamu...
Ingin sekali aku
mendepak diriku lebih keras dari hentakan kemarahanmu! Terlalu nistakah
berharap pada tumpuan yang seolah semakin rapuh dan lenyap!!
Sakit luar dan dalam,
seperti teriris pisau yang ku pakai sendiri. Seperti tertindas truk tapi seolah
ruh enggan beranjak dari jasad.
Koma..............................................................................................................
Seperti orang yang
tertidur namun nyatanya menunggu ajal.
Bolehlah mereka berkata
begitu ringan, namun semua rasa kembali pada diri yang merasai. Jika semudah
membalikkan telapak tangan, telah ku hantamkan jauh-jauh hari rasa ini ke tong
sampah!
Agar kamu juga tahu,
betapa aku tak ingin menyiksa dan tersiksa karenanya.
Agar kamu tidak lagi
malu,
Agar kamu tidak lagi
kesal,
Agar kamu tidak lagi
muak,


Tidak ada komentar:
Posting Komentar