Aku menulis ini, tepat pada 13 menit terakhir menuju 3 februari 2015.
Hari yang membuat sisa kehidupanku terkurangi dengan angka satu.
Harapan akan kedewasaan yang terus berkumandang dalam hati, menginjak
semakin tuanya usia. Tanpa terasa 22 tahun aku membuka mata dan hidup di
alam yang bernama dunia.
Banyak hal yang membuat ku
terjaga dari lelap tidur yang ku coba nyenyakkan. Tepat 23.47 WIB, aku
merasa ingin menuangkan sesuatu yang sulit untuk ku jabarkan melalui
lisan ini. Semua masih tentang kamu. Sosok yang terlalu abu-abu untuk
dapat aku ceritakan pada duniaku. Makhluk ALLAH, yang kadang ku selipkan
dalam beberapa cerita singkat pada keluargaku. Meski aku tahu, kamu tak
mungkin mengingatku lagi.
Sedikit kecewa ketika aku
tersadar ditengah kesibukanku menulis satu-persatu huruf dengan menekan
keyboard, bahwa kamu hanyalah berwujud bayang-bayang. Kenangan, cerita
silam dan lebih tepatnya masalalu.
3 tahun silam, aku
merasa hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan. Kamu datang
dengan sekotak besar barang yang membuatku sangat senang. Namun
diam-diam ku sembunyikan kegembiaraan itu dalam diam. Kamu tahu, aku
ceritakan pada mama tentang hadiah yang kamu berikan. Bukan karena
barangnya apa, tapi karena kamu adalah orang yang pertama kali membuatku
merasa berharga. Aku merasa spesial waktu itu, hingga aku lupa.
Kebahagian sepaket dengan kesedihan. Aku menjadi seseorang yang teramat
takut kehilangan. Aku takut kamu berpaling dan meninggalkanku. Dan
ternyata itu memang terjadi. Kamu pergi dan aku tak sempat membersihkan
puing-puing kenangan itu dengan segera.
Sampai pada
akhirnya aku merasa terus tertatih, mungkin sampai hari ini. Entah
sampai kapan, aku juga tak pernah tahu kapan rasa itu bisa memudar.
Kini
aku pandai berdusta! Aku pandai bersandiwara, berpura-pura baik-baik
saja, ketika melihat dan mendengar kamu dekat dengan banyak wanita.
Mungkin mereka yang terbaik, itu anggapanku. Aku juga tidak pernah tahu,
wanita mana yang benar-banar berhasil menduduki tahta hatimu, karena
kamu tak pernah mau berkata jujur tentang itu. Kamu selalu bilang tak
memiliki rasa apapun, aku tahu kamu berbohong. Meski tatapan matamu
terasa sangat ringan ketika berucap, tapi aku selalu yakin hatimu tak
pernah senada.
Perlahan aku merasa bahwa ALLAH punya rencana yang indah dibalik semua ini.
BARAKALLAH, 03022015.... AMIN YA ALLAH .......................................!!!
Untuk ALLAH jiwa dan raga sesungguhNYA, hati hanyalah milik ALLAH.
Terbukti manusia manapun tak dapat mendengar isi dari hati manusia lain. Hanya ALLAH yang maha tahu isi hati seseorang.
^_^
ttd Lusi Dwi Wahyuni .....................!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar