Entahlah, aku seolah berada dalam dua dunia yang memaksaku menyeretmu dalam narasi lama. Aku tak terlalu pandai mencerca tawamu dalam abai, toh jika waktu akan kembali membiarkanku piatu, mungkin itulah sketsa yang harus aku lewati.
Ada rasa sesak yang memuncak, ketika ternyata rindu ku telan sendirian.Ada segetir rasa takut yang seolah ingin mencengkram tubuhku dalam rasa abai yang berkepanjangan.
kamu tahu, begitu hantaman pilu ku seret sebagai arti dalam kedewasan, aku muak!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar