Powered By Blogger

Senin, 17 Juni 2013

kumpulan puisi (simetas)


HATI VS LOGIKA
Lewat teriakan lantangnya logika berbicara
Memaki perasaan yang ada
Menanamkan benih kebencian
Membuahkan keegoisan. . . . . .

Lewat bisikan lirihnya hati bersuara
Mencairkan rasa yang terselubung emosi
Meredam gejolak ambisi hasutan logika
Meluluhkan segala keegoisan diri...

Hanyut dalam pertarungan logika dan hati
Mana yang seharusnya ku ikuti?
Logika yang yang senantiasa membenci
Atau hati yang selalu ikhlas memberi…….


                                                                   BY: Lusi Dwi Wahyuni XII-IA-4

 
SILENT PLEASE!
Sejenak terdiam hanyut dalam pikiran,
Satu persatu ku urai ribuan kecamuk perasaan,
Yang kini menyatu menjadi butir kehampaan,
Tiba-tiba terlintas sosok itu,
Sosok yang begitu ku kasihi,
Ah,,,bulsit benci ku urai tentang dirimu,
Terlalu banyak goresan luka tersayat,
Begitu rapi kau ukir dihati,
Hingga nyaris membuatku mati rasa!

Aku Benci. . . . . .
Saat kau tak lagi hargai hati,
                        Aku kecewa. . . . .
                        Ketika kau kembali menggoreskan luka,
                        Huft, perih. . . . .
                        Saat mau tak mau realita harus ku terima,
                        Sadarkah kamu rasa itu berevolusi,
                        Membawa ku larut dalam kemunafikan,
                        Kini nyaris ku benci sosok itu!

Mengapa seolah-olah aku yang salah,
Saat rasaku sendiri terabaikan,
Ketika ku paksa hati pendam keegoisan,
Mereka bilang cinta tak harus memiliki?
Kau bilang ini takdir kita?
Ah.....tutup mulut kalian!
Muak ku dengar karena kalian tak rasa,
Hentikan ocehan yang menyuruhku bersabar!
Cukup dan jangan keluarkan omong kosong kalian. . .
                       
Aku manusia biasa,
                        Bukan nabi juga malaikat,
                        Mampu tertawa juga terluka,
                        Ku punya rasa ingin dibalas,
                        Ku punya hati ingin disambut,
                        Ku punya nafsu ingin dilihat,
                        Ku punya rasa bisa sakit,
                        Ku punya hati bisa menangis,
                        Ku punya nafsu bisa berontak. . .

Hah, sudahlah. . . .Lupakan saja!
Apa yang ku urai hari ini,
Lanjutkan kisahmu dengannya,
Namun ku ingatkan hukum karma jangan kau abaikan,
Walau pelan ku yakin kan datang,
Agar kau tahu rasaku ini,
Ukiran sakit yang juga harus kau nikmati,
Selamat tinggal penjahat kelamin,
Terima kasih untuk kolaborasi rasa yang kau hadirkan!



                  

                                                                             BY: Lusi Dwi Wahyuni XII-IA-4






”Nyatanya Kau PK”

Mulanya kau datang bagai seorang pahlawan,
Membawaku berlari dari luka yang menyakitkan,
Dengan semboyan janji yang kau ikrarkan,
Kau tepis semua keraguan!
Lambat laun kau bermetafase,
Menjadi penjilat sumpahmu sendiri,
Hingga kini begitu nampak dalam dirimu,
Kau bagai titisan Dajjal!

Terlalu singkat kau deskripsikan kisah barumu,
Terlalu lancang kau hakimi aku dengan ribuan celamu,
Kau abaikan hukum karma,
Sedang kau lupa sebuah hati terluka!
Terlalu naif kau berkata akan menjaga kesuciannya,
Jelas-jelas separuh kehormatanku tlah kau cicipi,
Dengan sombong kau pamer kebahagiaan,
Kau vonis murah harga diriku!

Ku kira kau malaikat,
Namun nyatanya kau penjilat,
Kini ku sadari kau jelmaan iblis,
Sesosok penjahat kelamin yang berlaga mistis!
Arrghh. . . yang harus kau tau,
Bagiku kau tlah mati,
Ya. . . yang ku tahu kau tlah mati!
Serta luka ini akan ku kubur dan obati sendiri. . .

Silahkan tertawa,
Karena hari ini kau menang,
Ku ucapkan terima kasih,
Untuk kolaborasi rasa yang kau hadirkan!
Di ujung batas perpisahan,
Logika berbisik kobarkan dendam,
Selamat tinggal Penjahat kelamin,
Semoga tak bertemu di masa depan!

                                                                  

BY: Lusi Dwi Wahyuni XII-IA-4






Akhir Kisah Putih Abu-abu

Haru tak tertahan kala mengingatnya,
Namun hari itu pasti akan tiba,
Waktu enggan mengalah untuk mengulurnya,
Aku memilih pasrah untuk menyambutnya. . .

          Sejenak hanyut dalam pusaran arus ingatan,
          Ku reka ulang ribuan cerita yang tersimpan,
          Sekilas muncul sesosok bayangan yang ku coba musnahkan,
          Kisah putih abu-abu yang tak mungkin terlupakan. . .

Kadang menatapmu dari jauh saja aku bahagia,
Meski tak harus dekat menjadi pemilik hatimu,
Bahkan Sejak kau pilih pelabuhan hati baru,
Aku mundur tertatih menahan realita!
         
          Pancaran sinar keteduhan dimatamu,
          Meredup tak mampu memantul pada mataku,
          Titik fokus sinar itu tertuju untuknya,
          Ya . . . . aku tahu tentu untuk dia!

Entah harus sedih atau senang,
Untuk menyambut hari itu datang,
Mungkin senang sebab ini awal melangkah kedepon,
Namun juga sedih karena akan kehilangan teman, guru, juga kamu!!

                                                         

BY: Lusi Dwi .W. (XII-IA-4)









1 komentar:

  1. kunjungi blog saya yang baru, untuk mengenal dunia bahasa... hehehehe riskiameliaelisa.blogspot.com >numpang promo.

    BalasHapus