Powered By Blogger

Senin, 17 Juni 2013

kamu...waktu..ajal


K.A.M.U……………………………………………………………………………………………
Telah lama ku tangkis dan tak ingin ku bahas. Kamu tahu kenapa aku begitu takut mengenal kamu??? Karena kamu akan menjadi lelembut seperti sesosok makhluk halus yang akan bergentayang. Membayangi walau tak berwujud!
Namun kamu tetap saja mengarahkan anak panah ke arahku. Semakin gesit aku menghindar, semakin gigih kamu membidik. Ada setumpuk tanya yang kadang begitu sulit ku pahami.
Tentang “mengapa ada aku?”
 “Kenapa ada kamu?”
“Kemudian mengapa ada kita?”
“Apa kamu bisa menjawab?”
“Arrrrrggghhh….. LUPAKAN SAJA!”
            Suatu ketika aku berniat mengasingkan diri. Menutup sebuah benih rasa akibat arahan anak panahmu. Tetapi justru kamu lebih cekatan membantai pertahananku. Aku angkat tangan, mengaku takluk. Meski sempat ku perkenalkan prajurit dadakanku. Prajurit itu temanmu! Entahlah, aku tidak bisa membedakan siapa penghianat sejati diantara kalian berdua! Aku hanya ingat, telah jatuh! Namun jatuh yang tak sakit. Tetapi jatuh yang membuat sesungging senyum terukir tanpa sadar.
            Aku mulai lengah, dan tanpa sadar panah telah menusuk tepat pada segumpal daging yang bersemayam dalam jasadku. Aku tahu, aku akan luka! Dan itu hanya masalah waktu. Hampir genap 12 bulan dan hal itu  bukan suatu perjalanan yang mudah, sementara panah masih bersarang pada tubuhku. Kamu kadang memapahku, dengan begitu telaten mendekte tikungan disetiap persimpangan. Namun terkadang kamu membiarkanku berjalan tanpa arahan. Padahal kamu tidak lupakan? Aku ini sedang tertusuk sebuah panah, dan itu adalah anak panah senapanmu.
            Bagiku kamu adalah satu-satunya ksatria yang mampu membuatku berfikir ulang dalam melangkah. Kamu membantuku membangun sebuah dasar pondasi yang akan memperkokoh suatu mahligai. Walau aku juga tahu, pasti akan tetap roboh pada waktunya.
            W.A.K.T.U………………………………………………………………………………….
            Membuat semuanya tak pernah seindah harapan. Sementara kamu hidup tidak sendiri. Kamu masih bertopang pada sepasang manusia utusan Tuhan. Melalui itulah kamu mampu menikmati hidup yang fana. Waktu memaksamu menjelajah apa yang tidak kamu tahu. Dan waktu jualah yang membuatmu menulusuri tempat-tempat kumuh yang begitu jijik ku amati dengan ego. Hingga kamu bertemu dengan sesosok dia dan mereka.
            Dia yang mengaku nyaman dengan kehadiranmu. Mereka yang mengaku bersosialisasi itu perlu. “Arrrrrgggh BULSIITTT!”.
            Bagaimana mungkin aku diam, dia begitu sigap mengalihkan pandanganmu ke arahnya. Aku terengah-engah, mencoba mencari titik fokus perhatianmu. Tetapi aku gagal. Sebab aku hanyalah seorang pecundang. Pecundang masalalu yang berenkarnasi dengan menyimpan kecemasan. Kecemasan yang tidak beralasan.
            Lalu kini, aku hanya mencoba diam. Menulusuri alurmu dari belakang. Dan aku sama sekali tidak berhak membantah. Sebab aku hanya menunggu waktu untuk benar-benar kehabisan energi. Hingga aku lunglai, lemas! Mungkin akan Mati pelan-pelan. Meski sesungguhnya aku belum mau mati, sebab aku menggantungkan setonggak harapan padamu. Demi misi perjalanan panjang kita. Semoga berakhir sampai tubuh salah satu diantara kita terbujur kaku. Tak ada lagi degup yang sering terdengar saat berdekapan. DIALAH AJAL…………………………!!!!
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar