K.A.M.U……………………………………………………………………………………………
Telah lama ku tangkis dan tak ingin ku bahas. Kamu
tahu kenapa aku begitu takut mengenal kamu??? Karena kamu akan menjadi lelembut
seperti sesosok makhluk halus yang akan bergentayang. Membayangi walau tak berwujud!
Namun kamu tetap saja mengarahkan anak panah ke
arahku. Semakin gesit aku menghindar, semakin gigih kamu membidik. Ada setumpuk
tanya yang kadang begitu sulit ku pahami.
Tentang “mengapa ada aku?”
“Kenapa ada
kamu?”
“Kemudian mengapa ada kita?”
“Apa
kamu bisa menjawab?”
“Arrrrrggghhh…..
LUPAKAN SAJA!”
Suatu ketika aku berniat
mengasingkan diri. Menutup sebuah benih rasa akibat arahan anak panahmu. Tetapi
justru kamu lebih cekatan membantai pertahananku. Aku angkat tangan, mengaku
takluk. Meski sempat ku perkenalkan prajurit dadakanku. Prajurit itu temanmu!
Entahlah, aku tidak bisa membedakan siapa penghianat sejati diantara kalian
berdua! Aku hanya ingat, telah jatuh! Namun jatuh yang tak sakit. Tetapi jatuh
yang membuat sesungging senyum terukir tanpa sadar.
Aku mulai lengah, dan tanpa sadar
panah telah menusuk tepat pada segumpal daging yang bersemayam dalam jasadku.
Aku tahu, aku akan luka! Dan itu hanya masalah waktu. Hampir genap 12 bulan dan
hal itu bukan suatu perjalanan yang
mudah, sementara panah masih bersarang pada tubuhku. Kamu kadang memapahku,
dengan begitu telaten mendekte tikungan disetiap persimpangan. Namun terkadang
kamu membiarkanku berjalan tanpa arahan. Padahal kamu tidak lupakan? Aku ini
sedang tertusuk sebuah panah, dan itu adalah anak panah senapanmu.
Bagiku kamu adalah satu-satunya
ksatria yang mampu membuatku berfikir ulang dalam melangkah. Kamu membantuku
membangun sebuah dasar pondasi yang akan memperkokoh suatu mahligai. Walau aku
juga tahu, pasti akan tetap roboh pada waktunya.
W.A.K.T.U………………………………………………………………………………….
Membuat semuanya tak pernah seindah
harapan. Sementara kamu hidup tidak sendiri. Kamu masih bertopang pada sepasang
manusia utusan Tuhan. Melalui itulah kamu mampu menikmati hidup yang fana. Waktu
memaksamu menjelajah apa yang tidak kamu tahu. Dan waktu jualah yang membuatmu
menulusuri tempat-tempat kumuh yang begitu jijik ku amati dengan ego. Hingga
kamu bertemu dengan sesosok dia dan mereka.
Dia yang mengaku nyaman dengan
kehadiranmu. Mereka yang mengaku bersosialisasi itu perlu. “Arrrrrgggh
BULSIITTT!”.
Bagaimana mungkin aku diam, dia
begitu sigap mengalihkan pandanganmu ke arahnya. Aku terengah-engah, mencoba
mencari titik fokus perhatianmu. Tetapi aku gagal. Sebab aku hanyalah seorang
pecundang. Pecundang masalalu yang berenkarnasi dengan menyimpan kecemasan.
Kecemasan yang tidak beralasan.
Lalu kini, aku hanya mencoba diam.
Menulusuri alurmu dari belakang. Dan aku sama sekali tidak berhak membantah.
Sebab aku hanya menunggu waktu untuk benar-benar kehabisan energi. Hingga aku
lunglai, lemas! Mungkin akan Mati pelan-pelan. Meski sesungguhnya aku belum mau
mati, sebab aku menggantungkan setonggak harapan padamu. Demi misi perjalanan
panjang kita. Semoga berakhir sampai tubuh salah satu diantara kita terbujur
kaku. Tak ada lagi degup yang sering terdengar saat berdekapan. DIALAH
AJAL…………………………!!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar