Akan ada waktu dimana aku akan diam pada pojokan tempatku tersudut. Jika kelak engkau mendapatiku tanpa degup, disitulah letak tragis perjalananku. Hari ini sengaja aku membiarkanmu melangkah tanpa sapaan hangat kita. Percuma aku bergelayut begitu manja, padahal disana engkau pun sedang begitu asyik bercengkrama. Dengan dia! Ya.. dia, tentu dia. Siapa lagi kalau bukan dia!
Dia adalah sosok yang sejujurnya tak ingin ku uraikan begitu detail. Terlalu muak menjabarkan duri yang masih begitu terasa pedihnya saat sepintas memory ini mengenangnya. Ada getar yang tak sanggup tertuang dalam deretan kata. Ketika kehadirannya engkau atas namakan sebagai uji coba. Jikapun hadirnya serupa dalam nama, namun haruskah cara penghianatan ini yang begitu sadis kau terapkan.
Aku memang pernah jatuh, tersungkur tak berdaya karena perginya cinta semu. Namun sejarah adalah bagian dari narasi masa silam. Tak layak kau hidupkan untuk bangkitku yang kesekian kali. Toh, jika memang untuk sekedar alasan ketegaran mengapa terlalu apik sandiwara kau perankan. Dimana letak keistimewaan diriku, ketika sapaan hangat kita sangat mudah kau bagi untuk dia.
Aku mencoba tidak sakit! Namun apa daya semula rasa tumbuh tanpa terencana. Pemilik cinta yang sempat menghadiahkan ini untuk kita. Kini sedang begitu pahit ku kenyam sendirian.
Apa perlu aku tertelan bumi? Agar hilang kau rasa perlahan tanpa aku. Aku mulai lelah, menerawang dalam bungkam yang pada realitanya begitu miris ku dapati. Jika memang tak sudi menjejali langkah dengan genggaman tangan kita lagi, silahkan depak aku di muka publik. Agar semua jelas, tak akan ada lagi kepalsuan dihadapan mereka. Aku juga akan lebih lega, menjadi sepah yang memang selayaknya terbengkalai. Tak akan ada beban ketika sejuta tanya menyeruak tentang aku yang kerap kali meneteskan butiran bening.
Engkau akan bebas mengepakkan pesona pada bunga-bunga yang hendak kau singgahi. Engkau tak perlu takut melukai karena aku telah layu dan mati. Mungkin akan menyita waktu yang panjang untuk aku bisa mati! Mati yang benar-benar mati. Bukan berpura-pura mati tetapi masih sesenggukan menahan perihnya tersingkir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar